SLEMAN – Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi.
Berdasarkan laporan resmi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), periode pengamatan Sabtu, 10 Januari 2026 pukul 00:00–24:00 WIB, tercatat 98 kali gempa guguran dan 89 kali gempa hybrid/fase banyak, menandakan suplai magma masih berlangsung secara intens.
Secara visual, gunung tertutup kabut tebal (Kabut 0-II hingga 0-III) sehingga asap kawah tidak teramati.
Cuaca mendung disertai hujan dengan curah hujan mencapai 22 mm/hari, angin tenang ke arah timur, serta suhu udara berkisar 17,4–23,26 °C.
Yang paling mencolok, teramati 6 kali guguran lava pijar mengarah ke barat daya (Sungai Sat/Putih) dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter dari puncak.
Aktivitas ini masih berada dalam zona potensi bahaya yang telah ditetapkan.
Status aktivitas Gunung Merapi tetap berada pada Level III (Siaga).
Rekomendasi BPPTKG kepada masyarakat dan pemangku kepentingan:
1. Hindari segala aktivitas di sektor selatan-barat daya, termasuk Sungai Boyong (maks 5 km), Bedog, Krasak, Bebeng (maks 7 km), serta sektor tenggara di Sungai Woro (maks 3 km) dan Gendol (maks 5 km).
2. Waspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, serta bahaya lahar terutama saat hujan deras di sekitar Gunung Merapi.
3. Antisipasi gangguan akibat abu vulkanik jika terjadi peningkatan erupsi.
4. Radius lontaran material vulkanik eksplosif dapat mencapai 3 km dari puncak jika terjadi letusan eksplosif.
5. Jika terjadi perubahan aktivitas signifikan, status akan segera dievaluasi ulang.
Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada, serta tidak memasuki kawasan rawan bencana. Informasi resmi dapat diakses melalui situs magma.esdm.go.id atau media sosial PVMBG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin