SLEMAN - Asuransi gagal panen di Kabupaten Sleman melalui APBD baru menyasar satu lokasi.
Tepatnya di persawahan Bulak Ngaglik, Sumbersari, Moyudan dengan luasan sepuluh hektare.
Lokasi ini dipilih karena paling rawan gagal panen dan masifnya serangan hama tikus.
Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Rofiq Andriyanto tak menampik memang ada berbagai lokasi rawan hama tikus yang lain.
Termasuk kerentanan gagal panen akibat faktor berbeda. Hanya saja, ini merupakan program uji coba pada 2026 dengan dana APBD dan baru pertama kali dilakukan. Sehingga, baru terbatas satu lokasi saja.
Rofiq menuturkan, asuransi ini diberikan dengan skema pemerintah kabupaten yang membayarkan biaya preminya. Nilainya Rp1,8 juta per hektare.
"Itu biaya premi asuransi. Sebelumnya itu di-cover Kementerian Pertanian, tetapi mundur," terangnya dikonfirmasi, Kamis (8/1/2026).
Baca Juga: Menkes Budi Gunadi Sadikin Sebut Butuh Rp 500 Miliar untuk Perbaikan Alkes dan Sarpras Rumah Sakit Terdampak Bencana Sumatera
Menurutnya, tidak adanya dukungan dari kementerian ini dimungkinkan karena anggaran dialihkan pada program lain.
Diharapkan, jaminan untuk lokasi ini bisa mencukupi. Lantaran jika melihat data kegagalan panen pada 2025, berkisar antara tujuh hingga delapan hektare.
Sementara itu, Sekretaris Aliansi Peduli Petani Sleman Herman JP Maryanto menjelaskan, asuransi bagi seluruh petani penting agar terjamin bisa mengolah tanah kembali pada periode berikutnya.
Ketika gagal panen tidak perlu mencari utang karena tidak memiliki modal. "Jadi agar petani bisa untung. Tidak utang dan utang lagi hingga menumpuk," katanya. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita