SLEMAN - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sleman pada 2025 hingga minggu ke 52 tercatat mencapai 418 kasus. Dari jumlah ini tidak ada kasus kematian. Angka itu menurun dibanding 2024 yang mencapai 675 kasus dengan dua kematian.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Khamidah Yuliati menjelaskan, ada lima kapanewon dengan kasus terbanyak. Mulai dari Gamping, Ngaglik, Godean, Seyegan, dan Mlati.
Dia menyebut, memang antara Gamping, Depok, dan Mlati saling bergantian. Lantaran kepadatan dan mobilitas penduduk yang sangat tinggi.
Ini adalah upaya memutus rantai penularan langsung dari nyamuk aedes aegypti sebagai akar masalahnya. Upaya lainnya adalah bimbingan teknis tatalaksana terstandar untuk menyiapkan tenaga medis yang kompeten. Khususnya dalam deteksi sini dan manajemen kasus. Agar nantinya pasien tidak sampai jatuh ke fase kritis.
"Setiap laporan kasus akan dianalisis secara real time. Hal ini memungkinkan untuk melakukan intervensi lingkungan," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama menjelaskan, penting untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Untuk nantinya bisa terhindar dari penyakit berbasis lingkungan seperti DBD ini. (del/eno)