SLEMAN - Supriyanto atau akrab disapa Mbah Pri meninggal dunia pada Selasa (6/1) pukul 11.03. Pria lansia yang kondang karena bersepatu roda di jalanan Yogyakarta ini menutup usia pada umur 71 tahun di Rumah Sakit Panti Rapih.
Jenazah disemayamkan di Masjid Nurul Faizin RT 08 RW13 Ambarketwang, Gamping, Sleman. Rencananya akan dimakamkan pada Rabu (7/1) pukul 10.00 di Makam Utoro Loyo tak jauh dari rumah duka. Berdasarkan pantauan Radar Jogja di lokasi, sudah banyak masyarakat yang datang untuk melayat dan menyampaikan rasa duka. Termasuk mensalatkan jenazah.
Putra Mbah Pri, Wahyu Wijayanto menjelaskan, ayahnya meninggal karena sakit kanker usus yang diderita sejak 2023. Gejala yang dirasakan karena terus-terusan buang air besar. Awal diperiksa disebut masalah lambung, tetapi saat diobservasi lebih lanjut ternyata ditemukan kanker yang sudah membesar.
"Terus akhirnya operasi dan kemoterapi selama enam bulan sampai 2024. Itu sudah selesai," terangnya ditemui di Masjid Nurul Faizin Selasa (6/1).
Setelah kemoterapi, Mbah Pri terus melakukan kontrol. Namun, saat dilakukan evaluasi ternyata kembali ada gejala kanker. Mbah Pri harus menjalani kemoterapi selama 12 kali sejak Juni 2025. Wahyu bercerita, jatah 12 kali kemoterapi itu sudah diselesaikan semuanya. Akan tetapi, saat tiba di rumah kondisi sang ayah tiba-tiba drop dan kembali harus dirawat di rumah sakit.
"Sama hari ini sudah dua belas hari. Jadi Senin pagi kemarin masuk ICU dan tadi siang dinyatakan meninggal dunia," katanya.
Putra sulung Mbah Pri ini mengaku, selama sakit bahkan usai menjalani kemoterapi, ayahnya tetap aktif bersepatu roda. Hanya saja frekuensinya tetap dikurangi. Sebenarnya keluarga sempat melarang karena khawatir, tetapi Mbah Pri tetap bersikukuh. Lantaran jika tidak bersepatu roda dia mengaku tak punya kegiatan dan badannya justru semakin sakit. Keluarga akhirnya membolehkan asalkan jaraknya tidak terlalu jauh. Lima hingga sepuluh kilometer saja.
"Setelah kemoterapi kesebelas itu juga masih sepatu roda. Padahal ketika kemo keenam badannya sudah drop," ucapnya.
Disinggung soal meneruskan hobi sang ayah, Wahyu menyebut dari empat bersaudara hanya dia satu-satunya yang bermain sepatu roda dan bergabung ke komunitas. Meski mengaku akan tetap aktif, dia tidak akan mengambil langkah ekstrem seperti ayahnya yang bersepatu roda dari Yogyakarta hingga Jakarta. Sekadar hobi untuk mengisi waktu luang saja.
"Memang yang serumah itu anaknya saya. Jadi yang intens mengantar bapak berobat saya dan ibu," katanya.
Dalam kesempatan ini dia turut menyampaikan permohonan maaf jika semasa hidupnya sang ayah banyak salah. Harapannya pemakaman besok bisa berjalan lancar. Menurutnya, tidak ada prosesi khusus yang disiapkan. Keluarga hanya berharap agar almarhum bisa beristirahat dengan tenang.
"Kalau pesan bapak itu hanya khawatir saya belum menikah. Rencana tahun ini ketika bapak sembuh, tetapi ternyata sudah berkehendak lain," tandasnya.
Sementara itu, salah satu tetangga almarhum, Nanang Edi menjelaskan, Mbah Pri adalah sosok yang baik, ramah, dan aktif di masyarakat. Dia pernah dua kali menjabat jadi ketua RT. Hingga saat ini juga masih jadi muazin di Masjid Nurul Faizin ini.
"Setelah terapi itu juga masih azan di sini. Suruh istrahat susah, katane nek leren mumet ndasku gitu," katanya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita