Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masih Ada Dua Mahasiswa UNISA yang Jalani Rawat Inap Imbas Keracunan Snack di RSJ Grhasia

Delima Purnamasari • Senin, 5 Januari 2026 | 15:26 WIB

Jumpa pers RSJ Grhasia
Jumpa pers RSJ Grhasia
SLEMAN - Sebanyak 22 mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) mengalami keracunan saat menjalani program early clinical exposure (ECE) di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Ghrasia, Senin (29/12/2025) lalu.

Usai dilakukan penanganan medis dan dirujuk ke beberapa rumah sakit, 20 orang sudah diperbolehkan pulang.

Dua mahasiswa yang masih menjalani rawat inap, masing-masing berada di RS PKU Muhammadiyah Gamping dan RS Sakinah Idaman.

Direktur RSJ Grasia, Akhmad Akhadi menjelaskan, dua mahasiswa yang masih dirawat kondisinya sudah membaik. Dia menilai tingkat keparahan memang dipengaruhi berbagai faktor.

Mulai dari jenis kuman, jumlah kuman yang masuk, hingga faktor kekebalan tubuh individu sendiri.

"Lama perawatan berdasarkan keparahan pada kasus keracunan pangan memang bisa sampai lima hingga tujuh hari," terangnya dalam jumpa pers yang digelar di RSJ Grasia, Senin (5/1).

Akhmad menjelaskan, saat kegiatan berlangsung mahasiswa diberikan snack berupa risoles mayo, tahu sarang burung, dan banana cake.

Bahan yang paling rentan memang risoles mayo. Berdasarkan penelusuran, risoles tersebut diproduksi sehari sebelumnya, yakni Minggu (28/12). Lalu disimpan di pendingin dan Senin pagi baru digoreng. Sekitar pukul 08.00 sampai di RSJ Grasia.

Snack disediakan lewat pihak ketiga, yakni katering dengan inisial CB yang beralamat di Plemburan, Ngaglik, Sleman. Pemilihan katering ini dilakukan lewat pengadaan elektronik Mbiz karena nilainya di atas Rp2 juta.

Akhmad menyebut, kegiatan ECE ini terdiri dari tujuh gelombang dan keracunan ini terjadi pada gelombang ketujuh. Seluruh gelombang ECE sendiri menggunakan jasa katering dari CB ini.

Walau demikian, dia menegaskan penyebab keracunan masih belum bisa dipastikan.

Harus menunggu hasil pemeriksaan sampel di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Dinas Kesehatan DIJ. Ada beberapa jenis sampel yang dikirim. Mulai dari sisa makanan, muntahan, hingga feses.

"Pemeriksaan mikrobiologi itu minimal tujuh hari. Kami dijanjikan hari Rabu hasilnya bisa dikirimkan," katanya.

Akhmad menyebut penyedia katering sudah ikut bertanggungjawab. Biaya pengobatan korban ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan. Sementara bagi yang tidak memiliki ataupun biaya lain yang ditimbulkan, ditanggung oleh penyedia katering.

"Keluarga penyedia ikut terdampak karena makan makanan yang sama. Sudah tiga sampai empat hari dirawat di rumah. Anak dan istrinya," katanya.

Disinggung soal isu aksi demonstrasi yang diisukan akan digelar di RSJ Grasia imbas kejadian ini, dia menampik hal ini.

Lantaran yang ada bukan demo, hanya audiensi dari BEM UNISA untuk mendapat penjelasan resmi.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA, Dewi Rokhanawati yang turut hadir menyebut, dalam gelombang ketujuh program ECE ada 40 mahasiswa yang jadi peserta.

Hanya saja tidak semuanya mengonsumsi snack yang disediakan. Ada yang hanya makan sedikit dan ada yang dibawa pulang.

Jadi, reaksi mual, muntah, diare, demam, dan pusing berbeda-beda waktunya. Ada yang mulai dari sore hari hingga hari berikutnya.

"Tidak semua mahasiswa dirujuk ke RSJ Grasia karena memang tidak semua rumahnya dekat dari sini," katanya.

Dia sebut seluruh mahasiswa terdampak berasal dari jurusan keperawatan dan berada di semester lima. Program ECE adalah kegiatan rutin yang sudah dilangsungkan lama agar mahasiswa dapat terjun langsung ke lapangan. Untuk nantinya bisa melihat langsung kasus-kasus di rumah sakit jiwa. (del)

Editor : Bahana.
#unisa #Yogyakarta #Sleman #keracunan #mahasiswa keracunan makanan