SLEMAN - Jalan Solo menjadi salah satu jalur terpadat tempat masuk keluarnya wisatawan DIY. Di sini akan mudah ditemukan lapak-lapak penjual salak.
Tepatnya di jalur arah timur, di sela-sela banyaknya toko oleh-oleh.
Dengan mobil pick up hingga rak-rak sementara, mereka menjual salak pondoh, salak gading, hingga salak madu.
Namun, jauh menurun dibanding tahun sebelumnya. Jika dulu sekali bawa tujuh kuintal dan bisa dipasok ulang hingga dua kali lipat, kini bisa habis tujuh kuintal itu saja sudah cukup bagus.
Menurutnya, kondisi ini bisa terjadi karena ekonomi masyarakat sedang menurun. Namun, kebutuhan juga banyak.
"Dulu itu semua merasakan. Wisatawan puas, penjual oleh-oleh seneng. Istimewa pokoknya. Sekarang menurun bener," terangnya ditemui di sela-sela melayani pembeli, Kamis (1/1/2026).
Harga salak yang dia jual beragam. Rata-rata Rp10 ribu hingga Rp 27 ribu per kilogram.
Tergantung ukuran dan jenis salak. Seluruhnya dia ambil dari Bumi Sembada. Antok mulai berjualan sejak pukul 06.00 hingga 22.00.
Hal senada diungkapkan oleh pedagang salak yang lain, Maharani. Dalam sehari salak yang laku sekitar 100 kilogram.
Beda dengan sebelumnya sekitar 150 kilogram. Dia bercerita, penjualan paling ramai pada hari Sabtu dan Minggu lalu.
Begitu pula dengan kondisi Jalan Solo yang begitu padat.
"Tidak ada strategi khusus, apa adanya. Kalau ada yang beli Alhamdulillah. Tidak pakai medsos juga," terang perempuan yang telah berjualan salak selama sepuluh tahun ini.
Baca Juga: JJLS Padat Awal 2026, Diterapkan Rekayasa Lalin Satu Arah: Akibat Lonjakan Kendaraan Menuju Obwis Pantai Selatan
Sementara itu, salah satu pembeli, Dewi Maharini menjelaskan, membeli salak untuk oleh-oleh ayahnya. Dia membeli salak lima kilogram dengan harga Rp 100 ribu.
"Dapat potongan Rp 10 ribu. Tadi juga sudah sempat icip-icip beberapa," terang wisatawan dari Jakarta ini. (del/wia)