Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemilik Restoran Sate Ratu Nilai Fluktuasi Harga Bahan Baku Jadi Faktor yang Membuat Pusing Pelaku Usaha Kuliner

Delima Purnamasari • Kamis, 1 Januari 2026 | 19:51 WIB

 

Antrean pelanggan Sate Ratu
Antrean pelanggan Sate Ratu

SLEMAN - Sektor kuliner juga menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi DIJ. Persoalannya, para pelaku bisnis ini mengaku menghadapi sejumlah tantangan sepanjang 2025. Harapannya hal ini bisa dicarikan solusi agar iklim usaha dapat membaik.


Pemilik Restoran Sate Ratu, Fabian Budi Seputro mengaku fluktuasi harga yang tidak bisa diprediksi. Tidak pasti kejadian apa yang menyebabkan harga jadi naik atau turun. Beda dengan periode-periode sebelumnya yang dapat diketahui dari momen tertentu. Misalnya, saat Lebaran atau Nataru maka harga dipastikan naik dengan kisaran tertentu.


"Tapi sekarang beli bahan harga Rp 20 ribu. Besok enggak ada apa-apa bisa jadi Rp 60 ribu. Lusa kembali lagi Rp 20 ribu. Tidak ada pola dan susah ngitungnya," terangnya ditemui di Sate Ratu, Kamis (1/1).


Menurutnya, fluktuasi harga ini yang membuat semua pengusaha kuliner pusing. Terlebih, tidak diketahui harga batas bawah dan batas atas setiap bahan baku. Dalam satu tahun, harga cabai paling rendah bisa Rp20 ribu, tapi paling tinggi bisa mencapai Rp 120 ribu tiap kilogramnya.


Budi bercerita, sampai saat ini tidak ada kenaikan harga setiap menu Sate Ratu. Walau demikian, dia tak menampik jika nanti fluktuasi ini tidak lagi bisa ditahan maka harus ada adaptasi. Entah itu menaikkan harga atau mengurangi jumlah tusuk sate tiap porsinya.


Sementara soal momen libur panjang Nataru kali ini, dia mengaku memang ada kenaikan pelanggan dibanding hari biasa. Namun masih lebih rendah dibanding prediksinya. Dia memperkirakan lonjakan pelanggan akan dimulai sejak 19 Desember sampai 5 Januari.


Kenyataan di lapangan baru naik perlahan pada 24 kemudian tanggal 25 Desember benar-benar naik. Setelah itu penjualan juga kembali landai. "Dibanding Nataru sebelumnya turun 10 persen. Walau secara umum pada 2023 dan 2024 itu memang sudah turun," katanya.


Dia menilai, kondisi ini bisa terjadi lantaran ekonomi yang tengah turun. Wisatawan memang banyak, tetapi pola belanjanya yang berubah. Sehingga jumlah uang yang dikeluarkan berkurang.


Sebagai contoh, biasanya pelanggan keluarga di Sate Ratu umum mencoba semua jenis menu. Mengingat variasi menu di resto di Condongcatur, Depok, Sleman ini tidak banyak. Di antaranya, sate merah, ceker tugel, dan lilit basah. Termasuk hadirnya pelanggan anak-anak yang akan menyasar menu pendamping seperti puding atau es krim.


Sekarang kecenderungan itu berubah. "Jadi tidak mengambil semua menu. Wisata tetap jalan, tapi jadinya seperti wisata sedikit lebih hemat," katanya.


Dia tidak menampik usahanya yang memasuki usia satu dekade ini memang sudah cukup stabil. Meski mengaku ada penurunan, bukan berarti usahanya serta-merta sepi tanpa pelanggan.
Baginya, stategi utama untuk bisa bertahan adalah fokus menjaga kualitas menu agar standar rasa tetap sama. Sekaligus meningkatkan pelayanan.


Disinggung soal insentif atau bantuan dari pemerintah terkait usaha kuliner, dia mengaku Sate Ratu belum pernah mendapatkan. Meski demikian, Budi hanya berharap agar pajak yang telah disetorkan para pelaku usaha bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Termasuk mendukung sektor pariwisata, seperti perbaikan infrastruktur jalan. "Jadi, dampaknya bisa langsung dirasakan. Sepengetahuan saya belum terlalu terlihat," katanya.


Berdasarkan yang dia ketahui, prediksi tren wisata Indonesia memang akan semakin tumbuh. Hanya saja kini kondisi ekonomi semakin berat, bukan lagi sekadar stagnan. Karena itu, dia mengaku agak ragu dengan prediksi tersebut. (del/laz)

Editor : Herpri Kartun
#nataru #Kuliner #sate ratu