SLEMAN - Aliansi Petani Sleman mengusulkan dibentuknya dewan pertanian. Tujuannya sebagai lembaga formal untuk memberi jaminan harga pasca-panen. Sekaligus memastikan asuransi ketika petani mengalami gagal panen.
Sekretaris Aliansi Peduli Petani Sleman Herman JP Maryanto menjelaskan, dua hal itu memang jadi fokus utama pembentukan dewan pertanian ini. Agar petani bisa untung dan dijamin bisa mengolah tanah kembali pada periode berikutnya. Dia menilai petani Bumi Sembada kini menghadapi persoalan pelik. Misalnya, data penerima subsidi pupuk yang tidak update hingga mahalnya pupuk non-subsidi.
Padahal, semestinya semua pemangku kebijakan saling kompak dan terintegrasi. Agar dapat memberi solusi atas persoalan yang dihadapi petani. Herman sendiri berharap agar dewan pertanian ini bisa dibentuk 2026 mendatang. Anggotanya berasal dari petani, akademisi, hingga eksekutif yang berpihak pada petani. Persoalannya, masih terkendala pada sosok-sosok yang sekiranya bisa didorong maju.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Susmiarto menilai, untuk organisasi sebenarnya sudah ada Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA). Organisasi independen di Indonesia yang jadi wadah komunikasi, koordinasi, dan perjuangan aspirasi bagi petani maupun nelayan.