SLEMAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman berencana membangun empat transfer depo senilai total Rp 3 miliar, ketimbang menambah fasilitas tempat pengolahan sampah terpadu (TPST).
Ini menyusul akan dilakukannya penanganan sampah lewat satu program pemerintah pusat, yakni pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Piyungan, Bantul.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman Sugeng Riyanta menjelaskan, masing-masing tempat transit sampah ini senilai Rp 750 juta dengan dana berasal dari APBD.
Pembangunan tempat transit sampah itu untuk menunjang pengelolaan sampah menjadi PSEL.
"Jadi, tahun depan tidak menambah fasilitas TPST. Kami fokus menyiapkan infrastruktur untuk menunjang PSEL," terangnya dikonfirmasi, Kamis (18/12/2025).
Selain menyiapkan proyek tersebut, saat ini fokus pemkab adalah menangani timbulan sampah tersisa yang belum terolah.
Hal ini mengingat PSEL direncanakan baru akan beroperasi pada 2028 mendatang. Di sisi lain, TPA Piyungan disebut akan benar-benar ditutup pada 2026 mendatang.
Salah satu strateginya adalah mengoptimalkan pengelolaan sampah secara mandiri dari masing-masing sumber sampah.
Selain itu, meningkatkan pengelolaan pada tiga TPST Bumi Sembada yang sudah beroperasi. Termasuk, pengelolaan sampah di TPS3R.
Baca Juga: Sah! Perda KTR yang Baru Resmi Disahkan DPRD Kulon Progo, Hanya Butuh Dua Bulan: Pedagang Harus Berizin agar Tetap Bisa Berjualan
"Rata-rata penyaluran sampah kami di TPA Piyungan itu 4,5 ton per hari. Setara satu truk. Kalau semua bisa linear, bisa dikendalikan," katanya.
Sementara itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyebut, adanya program PSEL ini harus disyukuri. Sehingga, proyek mandiri seperti TPST Moyudan maupun insinerator tidak diperlukan.
"Kami diminta jadi satu, ya ikut. Tinggal mencari solusi selama menunggu proyek berjalan," katanya. (del/wia)