Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pementasan Ludruk "Ku Tunggu di Jogja" di Sleman Yogyakarta: Romo Sindhunata Soroti Kritik Sosial Kesenian Tradisional Jawa Timur

Rizky Wahyu Arya Hutama • Minggu, 14 Desember 2025 | 17:04 WIB
Budayawan Romo Sindhunata ikut pentas Ludruk bersama KKM Status Unesa di Omah Petroek, Sabtu (13/12/2025) malam.
Budayawan Romo Sindhunata ikut pentas Ludruk bersama KKM Status Unesa di Omah Petroek, Sabtu (13/12/2025) malam.

SLEMAN - Kesenian tradisional Ludruk asal Jawa Timur kembali menghangatkan panggung budaya di Yogyakarta dengan pementasan lakon "Ku Tunggu di Jogja" yang dibawakan oleh Komunitas Kegiatan Mahasiswa (KKM) Studi Teater Tradisi (Status) Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Acara ini digelar di Omah Petroek, Sleman, pada Sabtu malam (13/12/2025) dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat lereng Merapi.

Pementasan yang merupakan bagian dari undangan Taman Budaya Jawa Timur ini berhasil membuktikan relevansi Ludruk dalam merespons isu-isu sosial kontemporer serta dinamika perjuangan rakyat.

Masyarakat setempat menilai pertunjukan ini sebagai refleksi jujur kondisi sosial saat ini.

Budayawan terkenal Romo Sindhunata yang turut serta dalam pementasan menegaskan bahwa Ludruk merupakan media efektif untuk menyuarakan pergolakan rakyat.

Menurutnya, kesenian ini selalu merespons keadaan sosial dengan cara memparodi situasi terkini, meskipun mengandung kritik tajam.

"Ini kan perjuangan rakyat, bagaimana rakyat memarodi dirinya, tapi juga melawan," ujar Romo Sindhunata usai pertunjukan.

Ia menambahkan bahwa kritik dalam Ludruk tidak sarkas, melainkan sangat sastrawi sebagai sastra rakyat yang tinggi nilainya.

Tema yang diangkat sering menyesuaikan konteks, seperti penanganan bencana, korupsi, hingga masalah pemerintahan.

Sementara itu, Dosen Unesa sekaligus Pembina Ludruk Status, Autar Abdillah, mengungkapkan bahwa pemilihan lakon "Ku Tunggu di Jogja" ditentukan oleh Panitia Festival Cak Durasim.

Namun, pentas di Omah Petroek dipilih karena keterkaitan erat antara Surabaya sebagai kota pahlawan dan Yogyakarta yang kaya kultur budaya serta semangat kepahlawanan.

"Waktu itu Romo Sindhunata bedah buku di Jawa Timur dan kami juga ingin pentas di Jogja. Maka gayung bersambut jadilah pentas di Omah Petroek ini," katanya.

Autar juga menepis anggapan bahwa Ludruk telah punah, dengan menyatakan bahwa kesenian ini sangat hidup di Jawa Timur, bahkan bisa ada tiga pementasan dalam sehari.

Ludruk bersifat adaptif dan bisa dimodifikasi sedikit dari pakem asli agar tetap digemari masyarakat, sambil mempertahankan semangat kritis yang melekat sejak dulu.

"NKRI harga mati, Ludruk harga diri," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa masyarakat masih memiliki ikatan kuat dengan Ludruk, bahkan ada kepercayaan bahwa mengundang Ludruk dalam hajatan atau bersih desa wajib dilakukan untuk menghindari musibah seperti kemalingan atau penyakit.

Empat elemen dasar yang tak boleh ditinggalkan dalam Ludruk adalah Remo, Jula-Juli, Lawak, dan Lakon.

Pementasan ini semakin memperkaya khazanah budaya di Sleman dan Yogyakarta, menunjukkan kolaborasi antarwilayah dalam melestarikan kesenian tradisional. (iwa) 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Romo Sindhunata #ludruk #cak durasim #Sleman #pementasan #unesa #omah petroek #surabaya