Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Petani Salak di Turi Belum Bisa Penuhi Kebutuhan Ekspor, Paguyuban Ambil dari Magelang hingga Wonosobo

Delima Purnamasari • Senin, 8 Desember 2025 | 03:45 WIB

 

Buah salak.
Buah salak.

SLEMAN - Salak menjadi salah satu komoditas khas dari Kabupaten Sleman. Buah bersisik ini bahkan sudah menembus pasar mancanegara. Sayangnya, ketersediaan salak ini belum bisa memenuhi kebutuhan.

Ketua Paguyuban Petani Salak Mitra Turindo Suroto menyebut, pada puncak ekspor dalam sebulan bisa melakukan pengiriman 80 hingga 90 ton. Sayangnya, salak dari paguyuban dengan anggota sekitar 400 petani ini belum memadai. Terkadang satu bulan hanya mencukupi 50 persennya, bahkan pernah 25 persen.

 Baca Juga: Kabupaten Sleman Masih Miliki PR Pengelolaan Residu Sampah, Keberadaan TPST Bukan Solusi

"Jadi kalau target tahun 2025 ini belum mencukupi. Kami ambil sebagian dari Magelang dan Wonosobo," sebutnya saat dihubungi Minggu (7/12).

Paguyuban Petani Salak Mitra Turindo sendiri mengekspor salak pondoh super. Negara utama yang jadi tujuan adalah China dan Kamboja. Anggota mereka mayoritas adalah petani dari Turi, hanya ada satu kelompok tani dari Tempel dan satu dari Pakem.

 Baca Juga: Hadapi Lonjakan Wisatawan Nataru, Pos Jaga dan Patroli Ditambah di Malioboro untuk Antisipasi Ini..

Suroto menegaskan, dalam bisnis buah prinsipnya adalah 3K, yakni kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Keberlanjutan ini yang dia nilai jadi tantangan paling sulit. Baginya, kondisi ini bisa terjadi karena pohon salak yang sudah tua hingga perawatan petani yang kurang intensif.

"Kalau kami ambil yang dari sekitar itu kadang kualitasnya kurang memenuhi syarat," katanya.

Menurutnya, serapan salak dari paguyuban memang terus meningkat. Bahkan, saat panen raya bisa seratus persen. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekitar 65 persen. Untuk itu, dia harap pangsa pasar ekspor ini bisa jadi tawaran untuk para petani mengembangkan pertanian salaknya. Terlebih, paguyuban selalu membeli salak di atas harga pokok penjualan (HPP).

 

"Jika panen raya HPP ditambah Rp 2.000 tiap kilogram. Kalau bulan lain bisa sampai Rp 7.000," katanya.

 

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Rofiq Andriyanto menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir banyak lahan salak pondoh telah beralih fungsi. Didominasi pada tanaman hortikultura lain. "Kami berupaya sedikit demi sedikit untuk mempertahankan," katanya. (del)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pasar mancanegara #ekspor #Harga Pokok Penjualan #Paguyuban Petani Salak Mitra Turindo #hpp #salak #Kabupaten Sleman #komoditas