SLEMAN - Pemerintah Kabupaten Sleman tengah melakukan pengujian kandungan nitrit dengan sampel sayuran. Ini merupakan tindak lanjut atas klaim Badan Gizi Nasional (BGN) yang menyebut keracunan pangan pada program makan bergizi gratis (MBG) di berbagai daerah endemik termasuk Kabupaten Sleman terjadi karena tingginya kadar nitrit. Hal ini bisa terjadi karena penggunaan pupuk nitrogen berlebih oleh para petani.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Eko Sugianto Ngadirin menjelaskan, sampel yang diuji adalah buncis dan kacang panjang. Pemilihan didasarkan karana kedua sayuran konstan dibudidayakan oleh petani. Selain itu, tanamannya juga menggandung rhizobium sebagai penambat nitrogen serta menambah kesuburan tanah alami.
"Pengambilan sampel dilakukan pada 30 November 2025 dengan titik pengambilan di petani Pakem dan Turi," terangnya melalui pesan singkat Minggu (7/12).
Sampel tersebut dikirim ke Angler Biochemlab, Surabaya pada 1 Desember lalu dan diterima sehari setelahnya. Proses masuk uji lab dilakukan pada 3 Desember dengan beberapa parameter uji, seperti nitrat, nitrit, dan E. coli. Waktu pengujian dilakukan selama tujuh hari kerja.
"Sebelumnya kami sudah ambil sampel pada 25 November, tetapi beberapa laboratorium yang kami hubungi tidak bisa uji parameter nitrat dan nitrit pada sayuran," katanya.
DP3 Sleman sendiri pada Agustus lalu sudah melakukan uji kandungan bahan kimia untuk komoditas pangan. Hanya saja, fokus pada residu pestisida dalam bahan segar yang jadi bahan baku menu MBG di lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hasil uji laboratorium terhadap sampel, seperti buah, sayur, beras, bawang merah, dan bawang putih menunjukkan hasil yang aman. DP3 tidak menentukan sampel yang akan diuji. Hanya menyesuaikan bahan segar yang dimiliki SPPG sebelum dilakukan pengolahan.
Sementara itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya menjelaskan, atas klaim yang diajukan mestinya dilakukan pengujian laboratorium dahulu. Kalau memang sejak awal bermasalah, logikanya semua masyarakat harusnya mengalami keracunan. "Saya tidak mau berkomentar. Harus diuji dulu kandungannya," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita