Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Melihat Sentra Pembuatan Blangkon di Kampung Beji, Sidoarum, Godean, Sleman; Jaga Kualitas, Pernah Dapat Pesanan dari Raffi Ahmad

Delima Purnamasari • Senin, 1 Desember 2025 | 04:23 WIB

 

 

TERSISA 14 PERAJIN: Proses pembuatan blangkon gaya Jogja Mataraman di Kampung Beji, Sidoarum, Godean, Sleman, Sabtu (29/11/2025).
TERSISA 14 PERAJIN: Proses pembuatan blangkon gaya Jogja Mataraman di Kampung Beji, Sidoarum, Godean, Sleman, Sabtu (29/11/2025).
SLEMAN - Kampung Beji di Sidoarum, Godean, dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan blangkon. Produknya khas blangkon gaya Jogja Mataraman. Berdirinya sentra ini, diawali oleh sosok yang dikenal dengan nama Mbah Somo sekitar tahun 1970.

Salah seorang perajin yang masih memroduksi blangkon, Muhammad Khoirudin mengaku merupakan generasi kedua dari Mbah Somo. Pria 75 tahun itu menjelaskan, saat ini masih tersisa sekitar 14 perajin. Biasanya mereka memasarkan produk di Pasar Beringharjo hingga menjualnya secara daring.

Pria yang akrab disapa Mbah Udin ini menyebut, ciri khas blangkon gaya Jogja adalah adanya mondol atau tonjolan di bagian belakang. Harganya berkisar antara Rp 75 ribu hingga jutaan jika menggunakan bahan dari batik tulis asli.

"Kalau bikin sendiri, maksimal dua saja karena masih manual," terangnya ditemui di kediamannya, Sabtu (29/11/2025).

Khoirudin menjelaskan, blangkon buatannya memang terkenal karena kualitas yang baik dan dinilai lebih awet karena tidak dilem, tetapi dijahit dengan tangan maupun mesin. Dia bahkan menyebut pernah dipesan 275 buah untuk menjadi suvenir pernikahan Raffi Ahmad.

Dibantu perajin yang lain, dia berhasil menyelesaikannya dalam dua bulan. Saat itu dia mengatakan harga blangkon masih sekitar Rp 35 ribu.

Pembuatan blangkon sendiri memang harus melalui proses panjang. Mulai dari diwiru, menyiapkan congkeng atau daleman blangkon, membuat bendolan dengan dakron, hingga proses pengikatan dan penjahitan.

Pembuatan blangkon yang standar juga tidak bisa asal. Untuk lipatan atau yang dia sebut sebagai saf, jumlahnya harus 17. Ini melambangkan rakaat salat dalam sehari.

Begitu pula untuk lipatan di bagian samping yang umum disebut sebagai manis dan berwarna merah, jumlahnya mesti lima karena melambangkan rukun Islam.  Sementara garis lipatan di bagian kuping, harus enam untuk melambangkan rukun iman.

Ayah tiga anak ini juga menyebut, sebenarnya pemilihan motif dalam penggunaan blangkon juga mesti dipertimbangkan. Misalnya dalam acara pernikahan biasanya dipilih motif Wahyu Tumurun atau Sidomukti. Agar keluarga yang dibangun bisa mendapat hidayah Allah SWT.

Baca Juga: ASN Pemkot Magelang Dipecat Tidak Hormat Usai Divonis Kasus Korupsi Dana Kapitasi BPJS

Namun saat ini memang penggunaannya lebih bebas. "Kendalanya saat ini karena generasi muda belum ada yang mau belajar ke bapaknya masing-masing," katanya.

Ayah tiga anak ini juga menyebut kendala yang lain adalah belum mengantongi hak paten. Di sisi lain, jumlah perajin semakin banyak, sehingga persaingan pemasaran juga semakin ketat. (del/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#raffi ahmad #Yogyakarta #Sleman #Wahyu Tumurun #Beji #pasar beringharjo #Muhammad Khoirudin #Godean #Mbah Somo #generasi muda #blangkon #Sidomukti #Allah SWT #daleman #jawa #rukun Islam #Sidoarum