Pemberdayaan kelompok wanita tani (KWT) dimaksimalkan. Untuk pemanfaatan lahan pekarangan. Hal itu demi mewujudkan kemandirian pangan daerah dan nasional.
ADALAH KWT Sekar Dadi yang tengah menjadi percontohan dalam program ketahanan pangan. KWT yang beralamat di Padukuhan Jagalan, Margodadi, Seyegan, itu tak lagi hanya menanam palawija dan hortikultura.
Belum lama ini mereka mendapatkan bantuan sedikitnya 600 ekor ayam petelur. Bukan hanya ayam, bantuan dari pemerintah pusat lengkap dengan kandang dan pakan.
Begitu mendengar informasi tersebut, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Sleman Shodiqul Qiyar SIP segera menuju kandang ternak KWT Sekar Dadi pekan lalu. Qiyar ingin melihat kiprah ibu-ibu di Jagalan, Margodadi, Seyegan.
Tak disangka, kehadiran wakil rakyat dari daerah pemilihan Sleman 6 itu disambut hangat. Wedang jahe hangat ditemani talas dan pisang rebus hasil panen sendiri menambah kehangatan dalam acara itu.
Berkenalan sejenak, Qiyar langsung menuju lokasi kandang yang dibangun di atas tanah pelungguh dukuh setempat.
“Ternyata memang luar biasa. Ini bentuk kehadiran pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan. Dan tepat sasaran, ujar politikus Partai Gerindra itu saat berkeliling kandang ayam.
Qiyar melihat konsep pemanfaatan lahan pekarangan oleh KWT Sekar Dadi sudah sesuai program pemerintah daerah. Yakni pekarangan lestari. Memanfaatkan lahan sesempit apa pun untuk kegiatan pertanian, peternakan, atau perikanan.
“Saya sangat mendukung program itu. Linier dengan program pusat,” sambungnya.
Berkaitan dengan pengembangan program, Qiyar membuka diri sebagai jembatan bagi KWT Sekar Dadi jika membutuhkan bantuan lain dari pemerintah daerah maupun pusat. Permohonan bantuan itu termasuk aspirasi masyarakat.
Qiyar berkomitmen mengawal aspirasi itu sampai gol. Bahkan jika memungkinkan bisa direalisasikan oleh pemerintah daerah melaui lembaga legislatif. Yakni lewat program pokok pikiran (pokir) DPRD Kabupaten Sleman.
“Target ketahanan pangan harus terwujud. Maka jangan sampai ada sejengkal tanah pun yang tak dikelola,” tuturnya.
Qiyar berharap, dengan memaksimalkan lahan pekarangan sendiri semua kebutuhan pokok sehari-hari bisa terpenuhi.
Khususnya gizi keluarga. Seperti daging, telur, sayur, dan buah-buahan. Semua bisa diproduksi sendiri tanpa harus menggunakan lahan yang luas.
Selain untuk pemenuhan gizi keluarga, hasil panen dari pekarangan bisa dijual. Ditukar dengan uang.
Ini berarti KWT turut berperan dalam kemandirian perekonomian.
“Saat ini juga berjalan program makan bergizi gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. KWT bisa menggandeng pengelola MBG dalam pengadaan bahan baku untuk menunya,” papar Qiyar.
Sementara itu, Ketua KWT Sekar Dadi Sartinem mengungkapkan, anggotanya saat ini ada 20 orang. Setiap hari mereka membagi tugas menjadi dua shift. Pagi dan sore. Masing-masing sepuluh orang untuk memberi pakan dan mengontrol air minum ayam petelur ini.
Dia mengaku senang dengan adanya bantuan ini karena bisa menambah kas kelompok dan meningkatkan kesejahteraan anggota. Terlebih, ada peluang bisa menyalurkan telur hasil panen ke satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) selaku pengelola MBG.
"Sampai saat ini alhamdulillah lancar. Semoga ke depan juga enggak ada kendala," katanya.
Dia bercerita bahwa adanya bantuan ayam petelur ini tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga pengetahuan.
Lantaran sebelumnya KWT Sekar Dadi hanya fokus pada pertanian hortikultura, seperti cabai dan sayur.
Dengan tambahnya lini usaha mereka juga jadi giat menambah ilmu peternakan dari penyuluh pertanian lapangan maupun Pusat Kesehatan Hewan.
Sartinem menargetkan lewat keuntungan dari bantuan ini bisa jadi modal pengembangan usaha serupa secara mandiri.
Sehingga, ketika ayam petelur sudah memasuki masa afkir, mereka bisa melakukan peremajaan lagi. "Kalau ternyata besok bisa dapat bantuan lagi alhamdulillah. Ini juga lahannya dipinjam dari bu dukuh jadi tidak keluar modal," tuturnya. (del/yog)
Editor : Bahana.