Dia menyebut rencana pembangunan tol sudah dijadwalkan sejak lama, termasuk soal rencana relokasi sekolah di Tlogoadi, Mlati ini.
Dia mengatakan, berbagai opsi lahan pengganti juga sudah dipetakan sejak dulu. Pergantian kepala dinas maupun kepala daerah semestinya juga tidak jadi soal.
"Dulu kami sudah memanggil dinas pendidikan untuk berhati-hati, tapi persoalan ini terjadi. Pemerintah seharusnya satu tahun yang lalu sudah merencanakan tempat yang tepat," terangnya ditemui di Hotel Alana Yogyakarta, Minggu (23/11).
Dia juga memahami alasan ketika wali murid sempat melakukan aksi penolakan. Hal ini karena kenyamanan pendidikan memang harus diperhatikan.
Mereka belum tahu kalau pun dipindah ke selter sementara akan seperti apa. Untuk itu harapannya bisa dilakukan pembangunan segera termasuk dengan penggunaan teknologi terkini.
Sehingga, pembangunan gedung baru bisa dilakukan secara cepat, tetapi tetap nyaman bagi para siswa.
"Aduan-aduan pada kami sudah ada terkait ini. Seharusnya dari dulu sudah diantisipasi jadi ada mitigasinya. Ini jadi kewenangan Pemkab Sleman," katanya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Kabupaten Sleman Rin Andrijani menjelaskan, saat ini telah mengirimkan surat permohonan pada Kementerian ATR/BPN dan Dirjen Tata Ruang.
Hal ini berkaitan dengan alih fungsi lahan pengganti yang masuk dalam kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Rin menyebut, saat ini belum ada pembahasan opsi lokasi lain mengenai lahan pengganti ini.
"Semoga segera mendapatkan jawaban. Rencananya besok Rabu bersama Bupati kami akan berkoordinasi dengan Bapak Dirjen Tata Ruang," tambahnya.
Disinggung soal alasan pengurusan alih fungsi yang baru saja dilakukan, Rin menyebut sebelumnya ada berbagai alternatif mengenai SDN Nglarang ini. Salah satunya adalah tidak dilakukan relokasi. Kepastian akan adanya relokasi dia sebut baru diputuskan belum lama. (del)
Editor : Bahana.