SLEMAN - Pemerintah Kapanewon Mlati tengah melakukan pendampingan satuan pendidikan aman bencana (SPAB) yang menyasar 20 sekolah. Materi utama yang diberikan adalah keracunan massal makanan tambahan (KMMT). Kegiatan ini sebagai bentuk respons atas peristiwa keracunan makan bergizi gratis (MBG) yang berulang.
Plt Panewu Mlati Arifin menyebut, ada dua peristiwa keracunan MBG yang viral di wilayahnya. Dengan total yang terdampak sekitar 600 orang dan tersebar di sembilan sekolah. Sehingga, dia menilai bahwa materi KMMT ini sudah menjadi kebutuhan. Harapannya sekolah bisa memahami standar prosedur yang harus dilakukan. Termasuk tindakan responsif apabila keracunan terjadi.
Baca Juga: JPW Sebut Vonis 12 Tahun untuk Pelaku Pembakar dan Pemutilasi Pacar di Bantul Terlalu Ringan
"Termasuk SPPG kami undang semua. Duduk bareng untuk mengetahui bagaimana SOP dan bisa koordinasi bersama," katanya ditemui di Kantor Kapanewon Mlati Rabu (19/11).
Sementara itu, Manajer Program SPAB Kapanewon Mlati Paul Sukadarma menjelaskan, sasaran program ini adalah guru dari sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Materi KMMT ini baru pertama kali diberikan dalam kurikulum SPAB. Sementara sebelumnya lebih ke bencana natural, seperti gempa bumi.
Baca Juga: Bermodal Arit dan Konten Unik, Riyang Gati Buka Usaha Jual Rumput Daring, Jadi Solusi Panen Padi yang Merugi
Dalam materi KMMT ini, sekolah diajak untuk memetakan risiko yang mungkin terjadi. Agar nantinya bisa memiliki kapasitas mandiri apabila terjadi keracunan di masa mendatang. Ada berbagai materi yang diberikan, seperti gejala keracunan dan koordinasi yang dilakukan apabila keracunan terjadi. Termasuk dalam memberikan pertolongan pertama jika ada kejadian.
"Pelatihan ini kami mulai sejak Oktober lalu dan puncaknya pada 11 Desember dengan simulasi KMMT," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita