Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sleman Temple Run hingga Tour de Merapi pada 2026 Dihapus Imbas Efisiensi, Dinas Pariwisata Pastikan Kunjungan Menurun

Delima Purnamasari • Selasa, 11 November 2025 | 01:10 WIB

 

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa melepas 700 peserta event Tour de Merapi 2023.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa melepas 700 peserta event Tour de Merapi 2023.

SLEMAN - Pemangkasan anggaran sebagai bagian dari efisiensi dari pemerintah pusat turut berdampak pada kegiatan yang dibuat Dinas Pariwisata Sleman. Berbagai acara dipastikan harus ditiadakan pada 2026 mendatang. 

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Edy Winarya menjelaskan, acara yang pasti dihapus adalah Sleman Temple Run. Dia cukup menyayangkan dihapusnya agenda ini lantaran sudah bertaraf internasional. Program sport tourism ini sudah berusia satu dekade. Pada 2025 sendiri sekitar seribu peserta diajak untuk menjelajahi kompleks Candi Banyunibo. 

 Baca Juga: Lentera Buruh, Pelita Perjuangan Hak Buruh Melalui Seni, Persiapkan Event Festival Kebudayaan Kelas Pekerja di Jogja

Agenda yang lain yang turut dihapus adalah Tour de Merapi. Pada 2025 ini sekitar seribu peserta diajak bersepeda motor dengan menempuh jarak 100 kilometer. Dimulai dari Lapangan Pemda Kabupaten Sleman hingga Bukit Klangon, Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan.

"Kalau jumlah kunjungan pasti berdampak dan menurun. Tapi kami belum bisa memastikan jumlahnya karena tentu butuh kajian," sebut Edy saat ditemui di ruangannya Senin (10/11). 

Kegiatan lain yang terdampak adalah pentas reguler di Kaliurang. Dari sebelumnya bisa seminggu sekali, hanya dialokasikan pentas tiga kali dalam setahun. Kondisi ini diyakini bisa berdampak pada penjualan UMKM di sekitar. Lantaran jualan mereka ramai ketika banyak pengunjung.

 Baca Juga: Soeharto Pahlawan, Tutut Tanggapi Pro Kontra Masyarakat: Sekarang Rakyat Sudah Dewasa dan Makin Pintar

Meski demikian, dia menyebut hal ini masih diusahakan agar kuantitas pentas bisa ditambah. "Biasanya kami buat jatilan atau campursari. Jadi kami bayar yang pentas," katanya. 

Kegiatan yang tersisa hanyalah Sleman Creative Week. Namun kegiatannya tidak didanai oleh APBD, tetapi dana keistimewaan. Selain itu, travel dialog yang diselenggarakan di luar daerah untuk menjaring pemangku kepentingan pariwisata. 

 Baca Juga: Menikmati Sensasi Pedas Otentik di Penyetan Sedep Mantep, Kuliner Wajib Coba di Jogja

Edy bercerita, setiap organisasi perangkat daerah (OPD) di Bumi Sembada terkena dampak pemangkasan 62 persen untuk anggaran bebas. Sementara anggaran terikat tetap, seperti belanja pegawai.

 

Dia menyebut, total yang dipangkas mencapai Rp 2,8 miliar dan hingga saat ini pihaknya baru memotong Rp 2,5 miliar. Sisanya akan diserahkan pada tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) untuk memangkasnya. "Sudah memangkas event-event itu masih kurang. Jadi kami serahkan ke TAPD," katanya. 

 

Di tengah kondisi ini, Edy mengaku dinas pariwisata akan banyak mendorong acara yang digelar secara mandiri. Harapannya bisa memberi dampak langsung pada kunjungan.

 

Sementara itu, Kepala Bidang Anggaran Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Sleman Ibnu Pujarta menjelaskan, pemangkasan dana transfer ke daerah mencapai Rp 279,3 miliar. Oleh sebab itu, harus dilakukan rasionalisasi. "Bisa dihilangkan atau dikurangi volumenya. Tergantung OPD dan kinerja yang direncanakan," ungkapnya. (del/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Dinas Pariwisata Sleman #pemangkasan anggaran #Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) #dana transfer ke daerah #efisiensi #Sleman Temple Run #Tim Anggaran Pemerintah Daerah #Tour de Merapi #sport tourism #sleman creative week