Mereka menuntut sekolah yang berada di Tlogoadi, Mlati, Sleman ini untuk dibangunkan gedung yang baru.
Para wali murid ini terlihat membawa baliho protes, seperti "Stop jadikan anak-anak kami tumbal proyek tol!!!", "Jangan gusur sekolah kami sebelum kami mendapatkan gedung yang baru", sampai "Jangan ping pong kami".
Salah satu wali murid, Suprihatin Widyastuti menjelaskan, para wali murid sudah capek. Sejak empat tahun pembangunan tol tidak ada kesepakatan yang baik.
Kondisi yang terjadi justru berdampak pada kesehatan para siswa, seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga demam.
Tidak ada kompensasi apapun terkait dampak debu yang ada. Bahkan untuk sekadar dibagikan masker.
"Hampir tiap hari ada yang tidak masuk sekolah. Sekelas bisa hanya separuh yang masuk, keluhannya sama," terangnya ditemui di SDN Nglarang, Senin (10/11).
Suprihatin menerangkan, sebenarnya dulu sudah ada janji untuk pembangunan gedung baru.
Namun, dengan alasan izinnya yang sulit, tidak ada progres yang dilakukan hingga kini.
Sementara saat ini Tol Jogja-Solo sudah hampir selesai, sekolah dikejar-kejar untuk segera pindah.
Informasi yang didapat ada tiga kelas yang akan dirobohkan, yakni kelas 4,5,6. Usai itu mereka akan dibangunkan shelter di sebelah timur sekolah.
Bangunan shelter yang terpisah dengan gedung utama sekolah ini dinilai akan menyulitkan para siswa. Jika ada pembelajaran komputer atau salat di masjid mereka harus kembali ke sekolah.
"Kami enggak enggak nolak proyek tol ini ya tapi kita cuman minta jangan mengorbanin masa depan anak-anak," katanya.
Apabila wali murid menolak pembangunan shelter, pihak tol disebut akan membangun tembok pembatas.
Namun, dia menyebut wali murid mengkhawatirkan soal keamanan para siswa jika nantinya tembok roboh. Ini mengingat selama proses pembangunan tol selalu terjadi getaran.
"Anak-anak selama ini kalau ada alat berat bekerja itu tembok bergetar. Anak-anak lari karena takutnya gempa," tambahnya.
Sementara itu, Lurah Tlogoadi Sutarja menjelaskan, setidaknya sudah dilakukan rapat hingga 15 kali untuk membahas persoalan ini, tetapi tidak ada titik temu. Salah satu lokasi yang sebelumnya direncanakan sebagai tempat pengganti berada di Tegalsari.
"Sebelum tol masuk sudah dibahas, kalau diurus dari dulu jelas sudah selesai, tapi bisa ditanyakan pada orang yang atas-atas itu," katanya.
Hingga saat ini masih dilakukan pembahasan soal persoalan ini di Kantor Kalurahan Tlogoadi. Kegiatan ini diikuti oleh Pemerintah Kabupaten Sleman, wali murid, maupun pihak tol sendiri. (del)
Editor : Bahana.