Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kabupaten Sleman Miliki 177.635 Warga Berstatus Lansia, Anggota DPRD Sleman Ingatkan Pentingnya Pelatihan Merawat Lansia Berbasis Keluarga

Yogi Isti Pujiaji • Senin, 10 November 2025 | 14:50 WIB
Anggota DPRD Kabupaten Sleman Hj. Ismi Sutarti SH
Anggota DPRD Kabupaten Sleman Hj. Ismi Sutarti SH

SLEMAN - Kabupaten Sleman memiliki 177.635 warga berstatus lansia. Jumlah itu setara dengan 16,7 persen dari total penduduk Bumi Sembada. Berdasarkan data statistik kependudukan per Juni 2025.

Tingginya populasi lansia dipengaruhi oleh angka harapan hidup Kabupaten Sleman yang mencapai kurang lebih 75 tahun.

Hal itu menggelitik pemikiran Anggota DPRD Kabupaten Sleman Hj. Ismi Sutarti SH ihwal bagaimana memuliakan lansia. Agar mereka tak merasa terabaikan. Bahkan supaya mereka tetap bisa produktif di usia senja. "Itu lah pentingnya pelatihan perawatan lansia berbasis keluarga," ujarnya Minggu (9/11).

Ismi menjelaskan, program pelatihan itu berlaku bagi keluarga yang memiliki lansia di rumah. Setidaknya harus ada anggota keluarga yang memahami tata cara merawat lansia yang baik dalam jangka panjang.

Menurut Ismi, saat ini ada sebagian lansia merasa terabaikan oleh anak cucu mereka. Padahal itu belum tentu. Ismi menduga, kesan itu muncul karena ketidaktahuan anggota keluarga dalam merawat lansia. Atau karena tidak ada waktu dan kesempatan lantaran kesibukan masing-masing dalam pemenuhan tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga. Bukan karena keluarga tidak mau merawat lansia.

Akibatnya, tak sedikit lansia akhirnya dilarikan ke panti jompo. "Ini kalau keluarga mampu secara ekonomi. Lantas bagaimana dengan lansia di keluarga kurang mampu?" ungkap politikus Partai NasDem itu.

Maka, Ismi mengusulkan perlunya program pelatihan perawatan lansia. Serta bantuan nominal bagi lansia terlantar.

Istilah terlantar, lanjut Ismi, bukan berarti lansia yang terlunta-lunta tanpa tempat tinggal. Mereka yang tinggal dalam rumah keluarga pun bisa terlantar. Lantaran kondisi keluarga dan kesibukan anak cucu mereka. "Lansia yang seperti itu perlu mendapat bantuan dari pemerintah," tutur tokoh perempuan asal Jembangan, Tirtoadi, Mlati.

Kembali pada program pelatihan perawatan lansia berbasis keluarga, kata Ismi, minimal ada satu orang perwakilan per rumah. Adapun sasaran pelatihan diutamakan bagi kader-kader Bina Keluarga Lansia (BKL) atau posyandu lansia.

Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat secara umum yang memiliki lansia di rumah mereka. Hasil pelatihan diharapkan bisa ditularkan pada anggota keluarga lainnya.

Ismi optimistis, dengan program tersebut kehidupan lansia Kabupaten Sleman akan lebih terjamin. Baik dari sisi kesehatan maupun kesejahteraan mereka. "Saat ini kan sudah ada peraturan daerah terkait lansia. Itu sebagai payung hukumnya. Selanjutnya tinggal merealisasikan program tersebut," katanya.

Di bagian lain, Ismi juga mendorong terwujudnya sekolah lansia di tiap kalurahan. Di sekolah lansia, mereka diajari cara merawat diri sendiri. Agar tidak selalu bergantung kepada orang lain.

Misalnya untuk keperluan mandi atau membedakan obat. Mana yang harus dikonsumsi tiap pagi, siang, atau malam. Menurut Ismi, terkadang lansia sudah lupa kalau tidak diingatkan atau diajari lagi. "Meski terkesan sepele, hal itu sangat penting," tegasnya. (yog)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#lansia #penduduk #keluarga #pelatihan #DPRD Kabupaten Sleman #perawatan #angka harapan hidup #Bumi Sembada #Kabupaten Sleman