SLEMAN — Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih menunjukkan tanda-tanda tinggi. Berdasarkan laporan aktivitas gunung api dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode pengamatan 4 November 2025 pukul 00.00–24.00 WIB, gunung berstatus Level III (Siaga) itu teramati mengalami sejumlah aktivitas guguran lava dan gempa vulkanik.
Dalam laporan resmi BPPTKG, kondisi cuaca di sekitar puncak Merapi dilaporkan cerah hingga mendung. Suhu udara berkisar antara 17,9–24,07 °C dengan kelembaban udara mencapai 82,8–99,9 persen. Tekanan udara tercatat di rentang 872–917,6 mmHg, dengan arah angin bertiup ke timur dan barat.
Secara visual, puncak gunung tampak jelas hingga tertutup kabut tipis. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih teramati keluar dengan intensitas tebal dan ketinggian sekitar 15–25 meter di atas puncak.
Dari hasil pengamatan kegempaan, BPPTKG mencatat 102 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–48 mm dan durasi 20–212 detik. Selain itu, terekam pula 54 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2–30 mm, serta dua kali gempa tektonik jauh.
“Teramati 14 kali guguran lava ke arah barat daya, tepatnya ke Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter,” tulis laporan BPPTKG yang disusun oleh pengamat Suratno dan Susanta.
BPPTKG menegaskan, potensi bahaya saat ini masih berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km. Sementara itu, sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah potensi bahaya tersebut. Warga juga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya awan panas guguran maupun lahar terutama saat hujan di sekitar Gunung Merapi.
Baca Juga: Van Gastel Siap Bawa PSIM Jogja Hadapi Panasnya Derby Mataram di Manahan Solo
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” tulis BPPTKG.
Selain itu, masyarakat diminta mengantisipasi potensi gangguan akibat abu vulkanik jika terjadi erupsi eksplosif. “Apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” tambah laporan tersebut.
Laporan aktivitas Gunung Merapi ini bersumber dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), melalui laman resmi https://magma.esdm.go.id. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin