SLEMAN - Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sleman masih terus menerima berbagai keluhan para pekerja migran Indonesia (PMI) asal Bumi Sembada. Umumnya karena mereka tidak melalui prosedur yang sesuai. Tercatat pada 2023 ada dua orang, 2024 dua orang, dan 2025 satu orang.
Kepala Disnaker Sleman Epiphana Kristiyani menjelaskan, masalah yang mereka hadapi beragam. Mulai dari gaji yang tidak dibayar, kekerasan, masalah hukum, sulit saat ingin kembali pulang, hingga merasa tidak aman.
Baca Juga: Kecelakaan KA Bangunkarta di Prambanan, Tewaskan Tiga Orang, Enam Lainnya Luka-Luka Termasuk Balita
Kondisi tersebut terjadi karena beragam faktor. Misalnya ketika berangkat menggunakan visa kunjungan, bukan visa kerja. Begitu pula dengan tidak dimilikinya sertifikat kompetensi.
Melihat kondisi itu, dia menilai penting untuk memberikan edukasi agar para calon PMI bisa memahami pentingnya berbagai prosedur yang ada. Tidak sekadar tergiur iming-iming tawaran yang praktis dan mudah untuk bekerja di luar negeri.
"Apalagi animonya meningkat. Kontribusi PMI itu pada ekonomi daerah, jadi melindungi mereka berarti melindungi ekonomi Sleman," sebutnya dalam jumpa pers di Ruang Rapat Sembada Selasa (4/11).
Jumlah PMI Sleman disebut mengalami kenaikan. Pada 2021 sebanyak 45 orang, 2022 sebanyak 282 orang, 2023 ada 373 orang, 2024 ada 305 orang, dan 2025 ada 310 orang. Sementara untuk negara tujuannya juga beragam. Seperti Malaysia, Jepang, hingga Hongkong.
"Belum lama ini kami juga memfasilitasi kepulangan PMI yang merupakan warga Sleman karena sakit," katanya.
Epiphana menyebut, apabila masyarakat masih ragu-ragu dapat langsung datang ke kantor dinas tenaga kerja. Untuk nantinya diberikan penjelasan mengenai prosedur dan pentingnya perlindungan PMI baik sebelum maupun setelah bekerja.
Sementara itu, salah satu PMI Anis Tri mengaku, memilih bekerja di luar negeri lantaran alasan ekonomi. Dia melihat tetangganya yang pulang dari luar negeri bisa memiliki banyak usaha.
"Temenku dulu rumahnya enggak layak huni, tapi sekarang jadi megah. Punya mobil, motornya juga banyak," tuturnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita