Kunjungan di masjid yang berlokasi di Caturtunggal, Kapanewon Depok ini untuk melihat kegiatan para relawan dalam memborong hasil panen para petani.
Salah satu pembahasan dalam kunjungan ini adalah harga singkong yang diproduksi dari Kabupaten Gunungkidul.
Harganya anjlok hingga Rp 500 untuk tiap kilogramnya. Menurut Zulhas, dengan harga tersebut para petani jelas akan rugi dan bangkrut. Kondisi ini bisa terjadi karena tidak ada pabrik yang menampung.
"Kalau tidak ada industrinya jangan tanam singkong, gak bisa untung, malah bisa jual sepeda motor. Harus cari alternatif," terangnya memberi arahan.
Zulhas menilai mestinya ada industri tepung tapioka karena jika menjual langsung ke pasar akan berat. Tidak mungkin bisa menyerap dalam jumlah banyak.
Sebenarnya pemerintah sendiri juga berencana untuk membuat metanol dari singkong hanya saja masih dalam tahap kajian. Kalau pun masyarakat ingin menanam untuk dikonsumsi sendiri maka jumlahnya tidak perlu banyak.
"Bisa tanam pohon kelapa. Satu butir Rp 12 ribu. Itu paling menguntungkan," katanya.
Alternatif lain yang dia tawarkan adalah menanam jagung. Para petani tidak perlu khawatir soal penyerapannya karena akan dibeli oleh pemerintah.
Persoalan lain yang juga dibahas adalah rendahnya harga sayuran. Menurut Zulhas, para petani tidak perlu khawatir akan persoalan ini.
Hanya perlu menunggu hingga program makan bergizi gratis (MBG) semakin meluas.
Dia menyebut nantinya dalam sekali penyaluran akan dibutuhkan 82,9 juta telur, buah, dan porsi sayur. Mereka diyakini akan laris dan ekonomi tumbuh.
Baca Juga: Waspada! DIY Bakal Hadapi Risiko Bencana, BMKG Prediksi Curah Hujan Selama November Sangat Tinggi
"Kalau ada hambatan di bawah sabar sedikit lagi. Saat ini baru sepertiga dapur. Tapi ini saja harga sudah mulai tinggi, apalagi kalau seratus persen," katanya.
Sementara itu, Kepala Takmir Masjid Nurul Ashri, Mucharom Nur menjelaskan, pada 2025 ini masjid telah memborong total 45 ton singkong dari Gunungkidul.
Dari harga Rp 500 dibeli dengan harga Rp 2000. Untuk sayur jumlahnya sudah 200 ton dengan kegiatan 70 kali borong.
"Meski berada di tengah kota, kami memiliki nama baru, yakni masjid petani karena kepedulian ini," katanya.
Salah satu petani singkong dari Gunungkidul yang hadir, Eriyanto menjelaskan, petani cukup kesulitan beralih pada komoditas lain karena wilayah yang kering. Sehingga, yang benar-benar bisa bertahan hanya singkong saja.
"Paling bisa dibuat gaplek. Harga Rp 1200 sampai Rp 1500 tiap kilogramnya," katanya. (del)
Editor : Bahana.