Sekolah ini akan menampung para siswa miskin maupun rentan miskin.
Lurah Margodadi Djalmo Susilodiprojo menjelaskan, saat ini tengah dilakukan perizinan Gubernur untuk penggunaan tanah kas desa.
Izin ini sudah sampai pada tahap sosialisasi. Apabila nantinya berkas sudah komplet maka akan dikirim ke Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY.
"Selanjutnya dari situ biasanya akan ada peninjauan lokasi. Kalau sudah oke baru dikirim ke Panitiskismo," terangnya dikonfirmasi melalui pesan singkat, Kamis (30/10).
Apabila Serat Palilah sudah turun maka pada tahun 2026 segera dilakukan pembangunan. Untuk saat ini dia sebut lahan masih seperti sedia kala, seperti hutan belukar.
Hal senada diungkapkan oleh Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sleman Ludiyanta.
Untuk tahapan sosialisasi ke warga Margodadi sudah dilakukan. Sementara untuk pembangunan akan dilaksanakan langsung oleh pemerintah pusat.
"Jadi pengennya semua perizinan selesai dulu, terus baru nanti diusulkan pembangunannya ke kementerian," terangnya.
Untuk lahannya dia sebut seluas lima hektare. Di sini tidak hanya untuk ruang kelas, tapi juga akan dibangun asrama siswa.
Di sekolah rakyat ini akan ada dua rombongan belajar dengan total siswa sekitar 150 orang. Kriterianya mereka masuk dalam desil satu dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
"Untuk yang jenjang SMA juga akan dibangun di Moyudan, tapi itu nanti dari Dinas Sosial DIJ," katanya.
Ludiyanta berharap sekolah rakyat ini betul-betul mampu bisa bermanfaat bagi warga Sleman. Agar nantinya persoalan sosial dan kemiskinan bisa dientaskan. (del)
Editor : Bahana.