SLEMAN — Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan. Dalam periode pengamatan pada Rabu, 29 Oktober 2025 pukul 00.00–24.00 WIB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat 10 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter.
Gunung Merapi yang menjulang setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut ini terletak di perbatasan empat kabupaten: Sleman (DIY), Magelang, Boyolali, dan Klaten (Jawa Tengah). Cuaca di sekitar gunung terpantau cerah hingga mendung, dengan suhu udara berkisar antara 17,4–25,3 °C dan kelembaban mencapai 99,4%.
Aktivitas Vulkanik Meningkat
Selain guguran lava, BPPTKG juga mencatat:
- 1 kali kejadian Awan Panas Guguran (APG)
- 74 kali gempa guguran
- 65 kali gempa hybrid/fase banyak
- 1 kali gempa tektonik jauh
Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal, membumbung setinggi 50–100 meter dari puncak. Gunung Merapi saat ini masih berada pada Status Siaga Level III, yang telah ditetapkan sejak 5 November 2020.
Rekomendasi dan Imbauan BPPTKG
BPPTKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya dan tenggara. Berikut wilayah yang berisiko terdampak:
- Sungai Boyong (maksimal 5 km)
- Sungai Bedog, Krasak, Bebeng (maksimal 7 km)
- Sungai Woro (maksimal 3 km)
- Sungai Gendol (maksimal 5 km)
Material vulkanik dari letusan eksplosif juga berpotensi menjangkau radius 3 km dari puncak.
BPPTKG mengimbau:
- Hindari aktivitas di zona potensi bahaya
- Waspadai lahar dan APG, terutama saat hujan
- Siapkan perlindungan dari abu vulkanik
- Pantau terus informasi resmi, karena status Merapi bisa ditinjau kembali jika terjadi perubahan signifikan
Gunung Merapi memang tak pernah benar-benar tidur. Tetap waspada, dan jangan abaikan peringatan demi keselamatan bersama. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin