Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Joglo Ambruk, Delapan Orang Jadi Korban, Sleman mulai Antisipasi Dampak Cuaca Ekstrem

Heru Pratomo • Jumat, 17 Oktober 2025 | 03:16 WIB

 

HANCUR: Sebuah bangunan joglo di Kapanewon Mlati yang rusak saat terjadi hujan deras dan angin kencang, Rabu (15/10) sore.
HANCUR: Sebuah bangunan joglo di Kapanewon Mlati yang rusak saat terjadi hujan deras dan angin kencang, Rabu (15/10) sore.

SLEMAN - Memasuki masa peralihan musim dari kemarau ke penghujan, potensi bencana hidrometeorologi di Sleman mulai menunjukkan dampaknya.

Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Sleman pada Rabu (15/10) mengakibatkan sejumlah kerusakan, termasuk robohnya sebuah joglo di area indekos, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati.

Joglo yang runtuh tersebut menimpa delapan orang. Seluruh korban langsung dilarikan ke RSA UGM untuk mendapatkan penanganan medis.

Dari delapan korban, lima di antaranya menjalani rawat jalan, sementara tiga orang lainnya harus dirawat inap.

“Biaya pengobatan seluruh korban ditanggung oleh BPJS Kesehatan,” terang Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Raden Haris Martapa, dalam jumpa pers di Ruang Rapat Sembada, Kamis (16/10).

Haris menjelaskan, peralihan musim ini membuat seluruh wilayah Sleman rawan terhadap cuaca ekstrem. Berdasarkan data BPBD, terdapat 44 kalurahan dengan risiko tinggi, terutama daerah padat penduduk dan lahan produktif yang luas.

Selain itu, ancaman tanah longsor juga perlu diwaspadai, terutama di wilayah perbukitan seperti Kapanewon Prambanan, Turi, Pakem, dan Cangkringan.

“Potensi longsor meliputi 14 kalurahan di 17 kapanewon yang kami beri perhatian khusus,” jelasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, khususnya bagi yang memiliki bangunan semi permanen seperti joglo. Pemeriksaan rutin terhadap kondisi bangunan sangat dianjurkan.

Selain itu, masyarakat diminta memangkas pohon-pohon rindang yang berisiko tumbang saat cuaca ekstrem.

“Pohon yang terlalu rimbun atau sudah lapuk sebaiknya dipangkas sebelum membahayakan lingkungan sekitar,” tambah Haris.

Baca Juga: Musim Hujan di Yogyakarta Datang Lebih Awal, BMKG: Waspada Cuaca Esktrem

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, mengungkapkan bahwa pada hari yang sama terdapat total 14 kejadian bencana di wilayah Sleman.

Enam kejadian tercatat di Kapanewon Mlati, mayoritas berupa pohon tumbang yang menimpa rumah dan tiang lampu. Enam kejadian lainnya terjadi di Kapanewon Sleman, dan dua di Gamping. “Sebagian besar karena pohon tumbang akibat angin kencang,” ujar Bambang. (del/pra)

 

 

Editor : Herpri Kartun
#Angin Kencang #hujan deras #bencana hidrometeorologi #peralihan musim