SLEMAN - Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto melepas ekspor salak pondoh dengan tujuan ke Tiongkok, Kamis (9/10/2025). Kegiatan ini dilaksanakan di Bhumi Nararya Farm, Girikerto, Kapanewon Turi.
Pelepasan salak seberat 5,4 ton dengan nilai Rp 180 juta ini dilakukan dengan pemecahan kendi di depan mobil pengangkutan salak.
Titiek mengatakan, prasarana produksi, akses permodalan, dan infrastruktur jadi elemem penting agar ekspor bisa berjalan efisien dan memiliki nilai tambah yang tinggi.
Untuk itu, diperlukan kolaborasi dengan badan karantina dalam hal akselerasi ekspor dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Kami dorong kegiatan diperluas dan berkelanjutan. Petani dan peternak tidak hanya memproduksi, tapi berdagang secara global," terangnya saat memberi sambutan.
Titiek menyebut, Bumi Sembada memiliki banyak potensi unggulan. Mulai dari salak pondoh sendiri, susu kambing, hingga ikan air tawar. Untuk itu dia akan terus mengawal agar aspirasi petani dapat tersampaikan.
Baca Juga: Komitmen Wujudkan APBD Pro Rakyat, Komisi A DPRD DIY Desak Menkeu Kaji Ulang Kebijakan Pemangkasan TKD
"Dengan pendampingan yang tepat, bisa jadi daerah pusat ekspor unggulan nasional," katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat Manaor Panggabean menyebut, telah melakukan edukasi pada pelaku usaha untuk bisa memenuhi persyaratan negara tujuan ekspor.
Dalam hal ini mendukung asta cita presiden untuk melanjutkan hilirisasi guna pemerataan ekonomi pedesaan.
"Pada tahun ini kami sudah membuat 131 sertifikasi pelepasan ekspor dengan nilai Rp 25,3 miliar," katanya.
Baca Juga: Sleman Siapkan Pembangunan Lintasan Atletik dan Panjat Tebing Baru, Dukung Prestasi Atlet: Dua Proyek Diusulkan Masuk Anggaran 2026
Dia menyebut, akan membantu untuk membuka peluang bermitra pada berbagai negara, seperti Thailand, Vietnam, dan Kamboja.
Sehingga, petani termasuk salak tidak perlu ragu apabila ingin memperluas kebunnya.
Ketua Paguyuban Petani Salak Mitra Turindo Suroto menyebut, telah rutin ekspor salak sejak 2017.
Dalam sebulan bisa melakukan ekspor 15 hingga 16 kali berkisar 5 sampai 15 ton untuk sekali berangkat. "Salak yang kami kirim dengan standar khusus. Sebulan nilainya sekitar Rp 1,5 miliar," tambahnya. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita