SLEMAN - Gerakan menanam kopi di Lereng Merapi yang pernah digalakkan Pemda DIY kini mulai menuai hasilnya. Itu seperti dirasakan Sarmin, petani dari Dusun Plosokerep, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Kopi yang ditanamnya di atas tanah 1,5 hektare sebagian siap dipetik. Dari luasan itu, Sarmin memanen di lahan 2.000 meter persegi.
“Ada dua jenis kopi. Arabika sekitar 1,5 kuintal dan robustanya 8 kuintal," cerita Sarmin saat ditemui di kebun kopi miliknya Rabu (8/10).
Pria 68 tahun itu bercerita di masa lalu lereng Merapi sebenarnya sudah ada tanaman kopi. Namun sifatnya liar. Tidak dipelihara. Warga menyebutnya Kopi Songgo Langit, lantaran tingginya yang menjulang.
Meski buahnya banyak, warga malas merawat dan mengurusnya. Itu karena harga buahnya murah Rp 1000 sampai Rp 1500 per kilogramnya. Ini sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Kopi yang ditanam Sarmin berkisar antara Rp 11 ribu hingga Rp 14 ribu. “Tergantung kualitas kopinya,” tuturnya.
Sejak beberapa tahun lalu ada gerakan menanam kopi. Anak-anak muda ikut bergerak. Berpartisipasi aktif. Dari perhitungan Sarmin, keuntungannya sebanyak 25 persen. Besarnya keuntungan itu mengundang daya tarik. Masyarakat ramai-ramai ikut menanam kopi. Apalagi banyak bantuan diberikan pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY. Di antaranya, bibit, pupuk, hingga peralatan pertanian, seperti angkong, cangkul dan alat pengering kopi.
Sarmin yang pernah menjadi dukuh itu sekarang mengandalkan tanaman kopi sebagai penghasilan utamanya. Meski demikian, menanam kopi ini bukan semata-mata sebagai tujuan ekonomi. Namun dia menjadikan sebagai sarana kampanye. Mengajak masyarakat meninggalkan pekerjaan tambang pasir. Beralih menjadi petani kopi.
Dengan begitu, lingkungan Merapi tetap terpelihara. Bisa diwariskan ke generasi mendatang. "Jangan sampai memberi warisan anak cucu kerusakan lingkungan. Kami mengajak warga tidak menambang dan mari menanam kopi," ajaknya serius.
Sedangkan Trubus, 56, mengaku bertanam kopi sejak lama. Tapi kebunnya rata dengan tanah karena erupsi Merapi. Rata-rata satu pohon kopi bisa menghasilkan 2 Kg biji kopi. Dari hitungan itu, satu pohon bakal menghasilkan pendapatan Rp 60 ribu. "Kopi ini dipetik tahunan. Kalau saya punya sekitar 200 pohon," ceritanya.
Pohon kopi juga mudah dirawat. Bisa ditumpang sari dengan ketela, pepaya, atau alpukat. Sekarang Sarmin, Trubus, dan warga lainnya tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sejahtera, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.
Kepala Bidang Perkebunan DPKP DIY Haniah Anna Susanti menjelaskan, lahan yang digarap Gapoktan Sejahtera mendapatkan fasilitasi desa organik untuk tanaman kopi dari pemerintah pusat pada 2022.
Konversi dari penggunaan bahan kimia ke organik ini memerlukan waktu tiga tahun. Gapoktan Sejahtera telah mengantongi sertifikat produk organik sehingga kopinya aman dikonsumsi. Selain itu, memiliki harga jual yang tinggi. Tahun ini ada program intensifikasi lahan kopi seluas 50 hektare di Sleman. “Kami terus mendampingi untuk meningkatkan produktivitas," katanya.
Lurah Umbulharjo Danang Sulistya mengatakan, Kopi Merapi punya cita rasa yang khas. Arabikanya tak terlalu asam. Sedangkan Robusta perpaduan asam, gurih dan bernuansa lembut. Menurut Danang, saat mengunjungi lahan petani Kopi Merapi, Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X telah memberikan nama khusus. Jenis Arabika dinamakan Kovaria dan Robusta dengan nama Nirmala Giri.
“Tak lama lagi kami luncurkan nama pemberian dari Ngarsa Dalem (HB X) dan didaftarkan hak kekayaan intelektual (HAKI) di Kementerian Hukum RI,” ucap Danang. (del/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita