SLEMAN - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Jogjakarta melaksanakan proses pengujian bahan berbahaya pada pedagang Lapangan Pemda Sleman Jumat (3/10). Uji kandungan ini meliputi formalin, boraks, rhodamin B, dan methanyl yellow. Sampel ini diuji dalam mobil laboratorium keliling.
Ketua Tim Kegiatan Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas BBPOM Jogjakarta Yustina Etik Handayani menjelaskan, pengambilan sampel dilakukan pada pangan yang diduga mengandung bahan berbahaya. Jumlahnya hampir 50 sampel.
Baca Juga: Meski Aduan Oplos dari Masyarakat Tidak Terbukti, SPBU Gito Gati Tetap Akan Ditutup Selama Dua Hari
"Sudah ketemu empat sampel yang positif," sebutnya di Lapangan Pemda Sleman Jumat (3/10).
Temuan tersebut terdiri dari dua kerupuk gendar yang mengandung boraks. Lalu ada cumi asin dan teri nasi yang mengandung formalin.
Menurutnya, formalin sebagai bahan pengawet jenazah berbahaya jika disalahgunakan untuk mengawetkan makanan. Begitu pula boraks untuk pengawet dan pengenyal. Meski tidak seketika menyebabkan penyakit, apabila dikonsumsi terus-menerus akan terakumulasi di ginjal.
"Nanti bisa gagal ginjal atau kena organ dalam lain. Bisa kanker. Dalam jangka panjang bisa menyebabkan kematian kalau parah," ucapnya.
Yustina menilai, kegiatan ini sangat mendukung untuk bisa memastikan pangan yang dijual pelaku usaha aman. Sehingga, masyarakat bisa merasa tenang dan aman saat membelinya.
Sementara itu, Kepala Bidang Usaha Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Kurnia Astuti menjelaskan, untuk pedagang yang jadi temuan akan dilakukan pembinaan. Diimbau untuk tidak menambahkan zat berbahaya dan diminta membuat surat pernyataan.
Kalau pun bahan hanya membeli dari pedagang lain, bisa beralih ke produsen yang aman. Baginya ini adalah langkah penting. Mengingat para pedagang baru saja dilakukan penataan.
"Ini langkah untuk meyakinkan masyarakat dan membranding kuliner di kompleks Lapangan Pemda ini aman," katanya.
Salah satu pedagang yang mengaku dagangannya dilakukan pengecekan adalah Supriyati. Perempuan penjual otak-otak ini mengaku tindakan pengecekan ini adalah langkah baik. "Kalau ada yang pakai bahan berbahaya dikasih tau untuk hati-hati dan edukasi soal penyakit aneh-aneh," sebutnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita