SLEMAN - Proses pemeliharaan Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck pada akhirnya telah menemui kesepakatan. Aliran air dari keduanya tidak jadi dimatikan tahun ini. Namun hanya sebatas pengurangan debit.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Maryadi Utama menjelaskan, penutupan total hanya dilakukan lima tahun sekali. Hanya saja setiap tahun tetap ada tindakan perawatan dengan mengecilkan aliran air.
Baca Juga: Resmi Masuk Prioritas, RUU Baru Siap Larang Perdagangan Daging Anjing dan Kucing
"Opsi penutupan total bisa terjadi apabila ada kondisi darurat dan perlu antisipasi perbaikan saat itu juga," sebutnya di Kantor BBWSSO Senin (29/9).
Dia menilai, apabila tidak dipelihara maka akan menyebabkan kerusakan. Misalnya, pondasi yang longsor bisa jebol dan hancur. Dia ingin jaringan bisa terus bagus sehingga pemeliharaan perlu dilakukan.
Baca Juga: Oknum Guru Terlibat Karaoke dengan Smart TV Bantuan Presiden, DPR Turut Soroti
"Kalau lima tahun sebenarnya takut ada longsor kalau tidak dipelihara," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Aliansi Peduli Petani Sleman Herman JP Maryanto mengaku, tidak paham soal kontruksi bangunan. Namun dia menilai, penutupan lima tahun sekali masih memungkinkan. Melihat Saluran Van Der Wijck yang bisa tahan lama sejak masa kolonial. "Tutup sebulan itu saya yakin ribuan orang akan marah karena suplai untuk petani," katanya.
Baca Juga: Pemkab Kulon Progo Gandeng 33 Perguruan Tinggi Kembangkan Kualitas SDM dan Industrialisasi
Dalam sekali penutupan aliran, dia mengatakan bisa menghilangkan dua musim pertanian maupun perikanan. Padahal, sebenarnya pada hari Selasa dalam sebulan sudah ada opsi untuk pematian.
"Dampaknya kerugian dahsyat sekali dan ini tidak terpikirkan pemerintah," katanya.
Herman menyebut, dimatikannya dua saluran utama di Bumi Sembada ini tidak hanya akan berdampak pada perikanan maupun pertanian. Namun, juga sumur warga yang debitnya menurun. Kondisi ini pernah terjadi sehingga warga harus mengandalkan air tangki suplai dari Pemkab Sleman.
"Meski tujuannya bagus, dampaknya ini tidak manusiawi," sebutnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita