Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Petani Sleman Harap Pemeliharaan Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck Dilakukan pada 2029

Delima Purnamasari • Selasa, 23 September 2025 | 02:00 WIB

 

BELUM KERING: Warga melintas di pinggiran Selokan Mataram kawasan Trihanggo, Gamping, Sleman Rabu (18/9/2024). Aliran air di Selokan Mataram dan Van Der Wijck rencananya akan dimatikan
BELUM KERING: Warga melintas di pinggiran Selokan Mataram kawasan Trihanggo, Gamping, Sleman Rabu (18/9/2024). Aliran air di Selokan Mataram dan Van Der Wijck rencananya akan dimatikan
 

SLEMAN - Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck direncanakan akan dilakukan pemeliharaan pada akhir tahun ini. Untuk itu, diperlukan adanya pematian aliran air selama sebulan penuh. 

Ketua Aliansi Peduli Petani Sleman Sutrisno menjelaskan, secara tegas menolak rencana ini. Dia menyebut, semestinya kembali pada kesepakatan awal bahwa dimatikannya aliran air dilakukan setiap lima tahun sekali. 

 Baca Juga: Upaya Tuntaskan Perparkiran Liar, Pemkot Jogja Bakal Tambah 100 Titik Parkir Digital Tahun Ini

Dia menyebut, sebenarnya tidak masalah ada proses pemeliharaan. Asalkan aliran air tidak dimatikan. Entah bagaima caranya. "Perjanjian pada 2024. Jadi, pematiannya harusnya 2029," sebutnya dihubungi melalui sambungan telepon Senin (22/9). 

Menurutnya, dimatikannya dua saluran air utama ini sangat berdampak bagi para petani. Sebab lahan yang terdampak mencapai 15.000 hektare. Sehingga dengan dimatikannya aliran air selama sebulan, sama saja menghilangkan penghasilan empat bulan. 

 Baca Juga: Heboh Isu Mandi dengan Air Galon! Gaya Hidup Menteri Pariwisata Jadi Sorotan Public, Prilly Latuconsina Ikut Berkomentar

Dia mencontohkan pada petani ikan yang biasanya bisa panen setiap dua minggu secara bergiliran tiap kolam. Penghasilan minimal Rp 1 juta. Namun, ketika Oktober aliran air dimatikan, maka tebar benih maksimal dilakukan tiga bulan sebelumnya. Agar ketika air tidak ada, ikan benar-benar sudah habis dan tidak ada yang perlu diairi. 

Meski nanti pada November air sudah mengalir, penghasilan rutin tiap dua minggu tersebut tidak bisa serta-merta kembali. Lantaran harus menunggu waktu panen ikan lagi selama tiga bulan ke depan. 

 Baca Juga: Puluhan Orang Tertangkap dan Terluka Akibat Bentrokan Demonstran Vs Polisi di Istana Presiden Filipina Buntut Korupsi Pejabat

"Roling panen itu hilang dan terputus. Keluar modal terus enggak ada penghasilan," keluhnya. 

 

Begitu pula dengan petani padi. Apabila Oktober dimatikan, maka petani akan kehilangan satu masa tanam. Tidak mungkin bibit padi bisa tumbuh tanpa air selama satu bulan. "Jadi dilihat kerusakannya, kalau darurat seperti jebol itu apa boleh buat," tambahnya. 

 

Sementara itu, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Vicky Ariyanti menyebut, belum bisa memastikan terkait dimatikannya dua saluran air ini. Rencananya kepala BBWSSO akan bertemu bupati untuk membahas masalah tersebut. 

"Besok tunggu dulu beliau bersepakat," pesannya. (del/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Selokan Mataram #Pertanian #Saluran Van Der Wijck #lahan #Aliran Air #Pemeliharaan #saluran air #Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) #Petani Sleman #petani ikan #Petani #kolam