SLEMAN - Serapan pupuk subsidi di Kabupaten Sleman masih belum optimal. Kondisi ini disebut dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Rofiq Andriyanto menjelaskan, alasan utamanya adalah sebagian petani yang belum melakukan penebusan. Lantaran pemupukan dimaksimalkan pada masa tanam antara Oktober hingga November.
"Ada sebagian kelompok yang belum menebus pupuk karena belum tanam. Perubahan jadwal tanam tidak bisa diprediksi sejak awal," sebutnya melalui pesan WhatsApp Jumat (19/9).
Dinasnya mencatat, sampai 31 Agustus serapan pupuk urea subsidi baru 54 persen. Alokasinya mencapai 8,765 ton sehingga masih tersisa 4,055 ton. Serapan tertinggi ada di Kapanewon Turi dengan 84,59 ton atau 75 persen dari alokasi. Sementara serapan terendah ada di Kapanewon Moyudan dengan 26 persen dari alokasi atau setara 156,13 ton.
Begitu pula untuk pupuk NPK yang serapannya baru 52 persen atau 3.440,8 ton. Total alokasinya mencapai 6.581 ton. Serapan tertinggi adalah Kapanewon Berbah dengan 85 persen dari alokasi setara dengan 351,17 ton. Sementara serapan terendah ada di Kapanewon Moyudan dengan 33 persen dari alokasi atau setara 140,99 ton.
Baca Juga: Tujuh Pekerja Freeport Hilang Diterjang Longsor Masih Belum Ditemukan, Produksi Tambang Dihentikan
"Serapan ini juga dipengaruhi perubahan komoditas," tambah Rofiq.
Dia mencontohkan dari komoditas tanaman pangan, seperti padi dan jagung, beralih ke komoditas hortikultura, berupa cabai. Kondisi ini menyebabkan pupuk khususnya urea belum terserap. Meski demikian, mereka tetap diusulkan ke dalam sistem elektronik rencana definitif kebutuhan kelompok (e-RDKK).
"Untuk mengatasi kondisi ini kami buat kegiatan tebus bersama di koperasi unit desa dan kios. Di Seyegan antusiasnya cukup tinggi, selama tiga hari terserap 35 ton," tambahnya.
Sementara itu, Panewu Moyudan Agung Dwi Maryoto menyebut, sebenarnya tidak ada kendala dalam serapan pupuk subsidi ini. Hanya saja memang baru memasuki masa tanam.
"Betul rendah, tapi sekarang sudah terus meningkat sampai 60 persen," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita