SLEMAN - Masjid Nurul Ashri Deresan menggelar program borong singkong ke petani di Kabupaten Gunungkidul. Hal ini lantaran anjloknya harga yang diterima petani hingga Rp 500 untuk tiap kilogramnya.
Bendahara Masjid Nurul Ashri Deresan Rozy Ahimsyah menerangkan, harga tersebut bahkan tidak cukup untuk petani bisa balik modal. Ini mempertimbangkan biaya tanam dan perawatan. Untuk itu masjid membelinya dengan harga empat kali lipat, yakni Rp 2.000 tiap kilogramnya.
"Kami ada beberapa kloter. Kalau total sudah hampir 30 ton," bebernya lewat sambungan telepon.
Program dilakukan lewat dua skema. Pertama, uang sedekah masjid yang kemudian singkong dibagikan secara cuma-cuma. Bisa di lembaga sosial hingga masjid.
Skema kedua lewat program jasa titip (jastip). Masyarakat menitipkan uang untuk dibelikan singkong lalu nanti bisa diambil. Tak jarang konsumen juga akan meminta singkong yang dibeli untuk turut dibagikan.
Baca Juga: UGM Terbitkan Kebijakan Kuliah Daring Empat Hari, Merespons Situasi Politik dan Sosial Indonesia
"Kami ambil dari beberapa lokasi penanaman. Jadi singkong yang baru dicabut, bukan yang dibuat gaplek," katanya.
Rozy menjelaskan, harga yang dibayarkan ke petani Rp 2.000. Sementara yang dikenakan ke pembeli Rp 3.000. Selisih itu digunakan untuk sewa truk, tenaga jasa angkut, pembelian karung dan plastik, hingga operasional relawan.
"Jadi fresh money yang kami terima itu enggak ada, dikembalikan pada program ini," katanya.
Bagi mereka yang ingin membantu program ini bisa turut bergabung menjadi sukarelawan. Misalnya, membantu menimbang singkong di masjid. Bisa juga ikut serta dalam program jastip.
"Selama harga yang ada masih sangat murah, selama itu juga ikhtiar untuk program ini dilanjutkan," tegasnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita