SLEMAN - Dugaan keracunan makan bergizi gratis (MBG) terjadi di SMP Negeri 3 Berbah pada Rabu (28/8/2025) lalu. Ini jadi kejadian kedua dalam bulan ini. Sebelumnya, pada Rabu (13/8/2025) empat sekolah di Kapanewon Mlati turut mengalami peristiwa serupa.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman Cahya Purnama menjelaskan, di sekolah yang berada di Kalurahan Jogotirto ini ada 137 orang terdampak. Terdiri dari 135 siswa dan dua guru.
Dua di antaranya menjalani rawat jalan di Puskesmas Berbah. Sementara satu orang sempat dirujuk ke RSUD Prambanan, tetapi bisa langsung pulang. Untuk yang lainnya diobati oleh petugas dari Puskesmas yang datang ke sekolah.
"Tidak ada yang rawat inap. Kondisinya mual, muntah, pusing, diare," terangnya ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Kamis (28/8/2025).
Soal tenaga pendidik yang turut jadi korban, Cahya menyebut memang dalam protokol MBG guru harus melakukan pengecekan. Meski sebelumnya di dapur sudah dilakukan. Ini untuk mengantisipasi kejadian tidak terduga selama perjalanan.
Dia menyebut guru melakukan pengecekan organoleptik yang menggunakan panca indra. Bisa dilihat dan dicium baunya. Ketika kondisi baik maka untuk antisipasi dicicipi dengan lidah. Agar tidak berdampak pada para siswa.
"Bukan meracuni guru. Enggak ada racun karena berpikiran positif enggak ada masalah program pemerintah ini," tambahnya.
Tes ini jadi yang paling mungkin dilakukan. Sementara apabila dilakukan tes kuman membutuhkan waktu hingga sepuluh hari.
Cahya menambahkan, atas peristiwa ini telah dilakukan penanganan dan penyelidikan epidemiologi sesuai prosedur. Diawali dengan penanganan korban, pengambilan sampel, hingga identifikasi wilayah yang jadi penerima MBG.
"Agar ketika terjadi perluasan kasus sudah bisa dikendalikan karena biasanya terlokalisir," tambahnya.
Dia menilai, keracunan memang dapat terjadi sebagian saja meski makanan yang dikonsumsi sama. Banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya soal distribusi rantai panas yang harus dijaga. Waktu terbaik untuk konsumsi juga semestinya empat jam setelah proses masak.
"Siswa yang lain enggak bergejala mungkin karena enggak makan atau hanya makan pada bagian yang tidak terkontaminasi," tambahnya.
Sementara itu, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Gunanto menyebut, telah diambil sampel MBG yang dikonsumsi sehari sebelum kejadian. Sampel ini diperoleh dari makanan yang memang disiapkan dari penyedia.
"Kalau untuk menunya ada nasi kuning, telur dadar, abon, kering tempe, jeruk," tambahnya.
Selain sampel makanan, turut diambil sampel air dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogotirto selaku penyedia. Sampel dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Yogyakarta. Untuk hasilnya perlu menunggu sekitar sepuluh hari.
"Bagusnya tentu untuk air dicek ketika awal, tapi ini baru setelah kejadian," katanya.
Dia menyebut, ada banyak faktor kemungkinan penyebab kejadian ini. Hanya saja dari hasil wawancara ada jeda waktu cukup panjang dari dari makanan diterima dengan makanan dikonsumsi.
"Diterima 07.30 mestinya dimakan 09.00, tapi itu baru jam 12.00. Di tempat lain mungkin segera dan sesuai," katanya.
Gunanto menambahkan, saat ini telah diintensifkan pelatihan bagi petugas di SPPG untuk mengantisipasi kejadian serupa. Baik itu pada petugas masak, pemilah bahan, hingga petugas cuci.
"Sudah ada sembilan SPPG dilatih lalu ada tiga yang sedang jalan. Salah satu materinya tentang cemaran pangan dan potensi penyakit," tandasnya. (del)
Editor : Iwa Ikhwanudin