SLEMAN - Yayasan Rumpun Nurani bersama Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia (LAKI) menginisiasi Program School-based Mental Health Indonesia (SBMH). Program ini bertujuan untuk mempresentasikan urgensi peningkatan kesehatan mental bagi remaja.
Project Leader Program Rennta Chrisdiana menjelaskan, program ini telah berjalan di dua sekolah menengah yang jadi percontohan. Yakni SMA BIAS dan SMA Negeri 1 Sleman.
"Proses yang dilakukan oleh tim SBMH adalah melakukan skrining awal, intervensi, serta monitoring dan evaluasi," katanya Rabu (27/8).
Program ini sendiri sudah berjalan selama dua tahun dan kini memasuki tahun ketiga. Dia menyebut, jumlah siswa yang diintervensi adalah 825 siswa. Beserta dengan orang tua dan 60 guru di kedua sekolah.
"Pada skrining awal ditemukan siswa terindikasi mengalami kecemasan dan depresi pada tingkat sedang hingga tinggi," tambahnya.
Baca Juga: Akhiri Ketegangan, Suporter PSIM Jogja dan Persib Bandung Islah di Mapolresta Jogja
Permasalahan terbesar yang dihadapi oleh siswa meliputi masalah keluarga, personal, hingga akademik. Sementara guru dan orang tua merasa sudah memberikan dukungan yang cukup untuk anak. Namun, siswa merasa bahwa mereka belum mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.
Setelah mendapatkan hasil skrining awal, tim SBMH melakukan intervensi dengan pendekatan multi-tiered. Mulai dari universal intervention, targeted intervention, dan risk intervention.
Baca Juga: Ratusan Pot Bunga di Kota Wates Disingkirkan, Ini Alasan Wabup Kulon Progo
"Intervensi yang dilakukan menghasilkan peningkatan dalam penanganan siswa," tambahnya.
Rennta menyebut, kedua sekolah telah beralih dari pendekatan hukuman menuju dialog, empati, dan dukungan proaktif. Sementara guru juga semakin aktif mengidentifikasi potensi masalah sejak dini. Sekaligus mengintegrasikan dukungan emosional dalam interaksi harian.
"Kami juga ada campaign kesehatan mental dengan hastag connecttocare," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Rumpun Nurani Siti Alfiah Kusumawardani menyebut, semua orang punya potensi gangguan jiwa. Kondisi ini bisa menyakiti diri sendiri dan orang lain.
"Saat ini semua orang sedang mengalami gangguan mental hanya levelnya berbeda-beda," katanya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita