Ditemukan ada tiga cemaran bakteri. Mulai dari escherichia coli, clostridium sp, dan staphylococcus.
Temuan itu didapat dari sampel makan bergizi gratis (MBG) yang dikonsumsi. Berupa nasi, rawon, dan lalapan.
Lalu ada muntahan dan feses dari korban keracunan. Hasil ini diperoleh dari Balai Besar Labkesmas Yogyakarta.
"Hasil ini tidak bisa berdiri sendiri. Masih harus dikonfirmasikan dengan hasil penyelidikan epidemiologi lapangan," terangnya ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Selasa (26/8).
Menurutnya, bakteri tersebut memang masuk lewat makanan yang terkontaminasi atau tidak bersih.
Untuk itu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku penyedia MBG turut diberikan berbagai rekomendasi perbaikan.
Salah satunya adalah meninjau kualitas air yang biasanya banyak ditemukan bakteri escherichia coli.
Ketika sayur dicuci dengan air ini maka akan tercemar. Meski proses memasak juga baik, pencemaran ini juga bisa tersebar lewat alat makan yang dicuci dengan air serupa.
Untuk membunuh bakteri tersebut air turut dilakukan proses chlorinasi.
"Jadi memang harus diperhatikan dari hulu hingga hilir," tambahnya.
Cahya turut mengimbau agar makanan yang dimasak dalam jumlah besar segera dikonsumsi. Tidak lebih dari empat jam.
Untuk penjamah makanan juga harus menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). SPPG juga akan dilatih untuk tau berbagai masalah di kualitas makanan.
"Satu dapur melayani lebih dari 3600 porsi tiap hari. Saran kami dipecah. Perbanyak dapurnya aja," tandasnya.
Sementara itu, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Gunanto menyebut, seluruh rekomendasi sudah disampaikan pada seluruh pihak terkait. Termasuk SPPG sendiri.
"Kalau total memang 379 yang terdampak. Sementara yang sempat rawat inap 18 orang," katanya. (del)
Editor : Bahana.