SLEMAN - Yayasan Literasi Desa Tumbuh menggelar kegiatan Ngobrol Bareng bertajuk “Potensi Kolaborasi Desa Indonesia–Jepang, Konsep Sister Village, dan Peluang Kerja Sama Lintas Budaya” di Plataran Literasi Desa Tumbuh, Betakan, Moyudan, Sleman (23/8).
Acara ini dihadiri oleh Pendiri Yayasan Literasi Desa Tumbuh Dr Noor Huda Ismail dan Director of Political Affairs, Kedutaan Besar Jepang di Indonesia Tanaka Motoyasu , serta melibatkan warga desa, tokoh masyarakat, dan pelaku UMKM.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan penampilan Tari Nusantara oleh anak-anak Aksara Tari Literasi Desa Tumbuh, kemudian bersama-sama membuat origami bersama narasumber dan dilanjutkan dengan diskusi.
Diskusi utama dipandu secara santai namun substantif, membahas beragam isu mulai dari membahas terkait pendidikan di Jepang kemudian bagaimana secara tataran teknis kesiapsiagaan Jepang menghadapi bencana.
“Pengurangan risiko di Jepang sangat diperhatikan, setiap tahunnya sekolah harus mengadakan simulasi bencana,” ungkap Tanaka Motoyasu menjawab pertanyaan salah satu peserta.
Selain diskusi, acara ini juga memberi ruang bagi pemberdayaan ekonomi lokal. Para ibu desa dilibatkan untuk menjual makanan tradisional sekaligus menyediakan konsumsi bagi peserta, sehingga kegiatan ini tidak hanya memperkuat jejaring diplomasi, tetapi juga menghidupkan UMKM dan ekonomi desa.
Ismiyati, warga Lokal Betakan, yang merupakan juara dari lomba kuliner memasak makanan berbahan lokal di Literasi Desa Tumbuh: “Sebagai warga desa, saya bangga bisa terlibat dalam acara ini. Tidak hanya belajar tentang Jepang, kami juga mendapat kesempatan untuk mengembangkan UMKM melalui penyediaan makanan. Harapan kami, kerja sama Sister Village nantinya benar-benar terlaksana dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.”
Saat ditemui di lokasi, Noor Huda Ismail menyampaikan, “Kerja sama Sister Village membuka ruang diplomasi rakyat. Desa bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek yang bisa berkolaborasi lintas negara. Jepang memiliki pengalaman panjang dalam literasi bencana dan penguatan komunitas, sementara desa-desa kita punya tradisi gotong royong dan literasi budaya. Pertemuan ini adalah titik awal untuk menjembatani dua kekuatan itu.”
Pertemuan ini menjadi titik temu lintas sektor, berbagai lembaga pendidikan alternatif seperti Narapuspitan, Sanggar Anak Alam Nitiprayan dan Lebah Putih, praktisi di bidang perlindungan anak -LPA Klaten, hingga pemerintah Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi DIY turut hadir, duduk bersama dan mendiskusikan potensi kolaborasi dari desa.
Acara kemudian ditutup dengan penanaman pohon alpukat sebagai simbol persahabatan dan tumbuh bersama.
Editor : Heru Pratomo