SLEMAN - Tumbak Kyai Turun Sih merupakan salah satu tetenger yang dimiliki oleh Kabupaten Sleman. Pusaka ini umumnya akan dilakukan jamasan setiap tahun.
Ketua Paguyuban Abdi Dalem Kabupaten Sleman KMT Dwijo Jayeng Mardowo menjelaskan, Tumbak Kyai Turun Sih adalah pemberian dari Sultan HB X pada 1999. Dengan pamor beras wutah, pusaka ini jadi lambang kemakmuran lahir dan batin bagi masyarakat di Bumi Sembada.
Baca Juga: Dukungan Brajamusti dari Teriakan Lantang di Tribun hingga Beri Surat Personal bagi Para Pemain PSIM
Dia menyebut pusaka ini harus selalu dibersihkan. Tujuan secara fisik adalah untuk menghilangkan kotoran, kerak, dan debu. Sementara tujuan non-fisik adalah untuk membersihkan aura negatif.
"Jadi tombaknya Kabupaten Sleman ini bisa terus memancarkan aura positif," katanya.
Pembersihan secara menyeluruh diiringi dengan berbagai tradisi ini disebut dengan jamasan. Di dalamnya ada acara wilujengan, selametan, hingga kenduri.
Jamasan diawali dengan penyiraman air dari kembang setaman. Diambil dari air keraton dan air dari Pemkab Sleman yang dicampur. Setelah itu, dibersihkan dengan jeruk nipis apabila ada karat. Selanjutnya, dioles dengan minyak cendana berkualitas tinggi.
Baca Juga: Udan Salah Mongso Buat Baliho Ambruk, Pohon Tumbang dan Banjir di Wilayah DIY
"Dibiarkan sebentar biar meresap di pori-pori baru dikeringkan baru dimasukan lagi," tambahnya.
Dwijo bercerita bahwa perawatan Tumbak Kyai Turun Sih tidak hanya jamasan saja. Namun, secara berkala juga dilakukan pemeriksaan kebersihan setiap tiga bulan sekali.
"Saya juga yang ngecek. Dilihat bersih tidaknya. Tumbak ini disimpan di ruang dinas bupati," katanya.
Sementara itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya menjelaskan, semua elemen kebudayaan di Bumi Sembada harus dilestarikan. Tidak boleh ada yang punah.
"Kami ini bagian dari Provinsi DIY yang harus mempertahankan nilai-nilai budaya," katanya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita