SLEMAN - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sleman menyebut ada penurunan okupansi semester satu pada 2025. Rata-rata okupansi mencapai 51,77 persen. Untuk hotel berbintang 51,70 persen dan hotel non-bintang 50,9 persen.
Sedangkan pada periode yang sama tahun 2024 rata-rata mencapai 59,64 persen. Untuk hotel berbintang 60,24 persen dan hotel non-bintang 35,36 persen. "Memang sedikit menurun. Faktornya karena berbagai hal," kata Ketua Badan Pengurus Cabang PHRI Sleman Andhu Pakerti.
Andhu menyebut, hal utama adalah kebijakan pemerintah yang langsung berpengaruh pada anggaran, seperti efisiensi. Selain itu, kejadian luar biasa, kondisi lalu lintas, hingga infrastruktur.
Kebijakan pemerintah lainnya adalah dari pemerintah Jawa Barat yang melarang study tour. Kondisi ini berdampak pada sektor pariwisata dan turunannya. Membuat para pelaku usaha harus memberikan usaha lebih. Misalnya, memberikan variasi jasa pada masa sebelum dan sesudah wisuda. Mengingat di Bumi Sembada terdapat banyak kampus.
"Kalau dari PHRI sendiri tidak pernah menarget karena itu ranah masing-masing. Tapi tentu ada biaya operasional yang harus ditutup," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sleman Kus Endarto menyebut, sektor pendidikan bisa menjadi magnet baru. Dia menghitung setidaknya ada 121 kampus di DIJ, 45 di antaranya ada di Sleman.
"Misal dari kegiatan wisuda itu bisa membuat kerabat mahasiswa datang dari luar daerah. Ini potensi untuk mengembangkan pariwisata," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita