Kembali berjalannya program pemerintah pusat itu menunggu proses penyelidikan selesai.
Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 3 Mlati mengungkapkan, proses penyelidikan masih berjalan.
Karena itu, dia tidak mengetahui kapan program MBG berjalan kembali.
”Usai kejadian, pihak sekolah menggelar pertemuan dengan wali murid,” jelas Yulia melalui sambungan telepon, Senin (18/8/2025).
Dari pertemuan itu, Yulia menyebut, belum ada kesepakatan antara sekolah dan wali murid. Yang pasti, wali murid menunggu dan mengikuti kebijakan sekolah.
Ratusan siswa di Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman mengalami keracunan Rabu (13/8/2025). Mereka dari empat sekolah.
Yakni, SMP Muhammadiyah 1 Mlati, SMP Muhammadiyah 3 Mlati, SMP N 3 Mlati, dan SMP Pamungkas.
Mayoritas siswa mengalami pusing, mual, hingga diare. Sehari sebelumnya mereka mengonsumsi MBG dengan menu nasi rawon.
Usai insiden keracunan, kata Yulia, sekolah tidak melayangkan protes. Sebab, satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) selaku penyedia menu MBG akan bertanggung jawab. Terutama terhadap siswa yang terdampak.
”Alhamdulillah. Semua sudah sehat kembali dan sudah pulang," tambahnya.
Dia menceritakan, sebenarnya tidak ada keanehan pada makanan yang diberikan. Tim dan guru sempat mengecek kelayakan makanan sebelum diberikan kepada siswa.
”Nasi rawon kemarin kami cek sampling acak, tidak ada perubahan rasa atau bau," tambahnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati menyebut, ada 379 siswa yang mengalami keracunan.
”Sumber ini dari Google Form yang disebar. Alhamdulillah. Kondisi sudah membaik semua,” katanya.
Menurutnya, seluruh siswa yang sempat dirawat di sejumlah fasilitas layanan kesehatan telah diizinkan pulang.
”Pasien opname di RUSD Sleman sudah pulang semua. Terakhir pulang pada Sabtu 16 Agustus 2025," tambahnya. (del/zam)
Editor : Herpri Kartun