Pelestari Bekakak Raden Yudi Pramardiyanto menjelaskan, tidak ada perbedaan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.
Seluruh panitia terus menyiapkan prosesi tradisi untuk upacara puncak yakni pemotongan boneka bekakak.
"Jadi satu pasang dipotong di Gunung Kliling. Sementara satu pasangnya di Gunung Ambarketawang," tambahnya.
Laki-laki usia 45 tahun ini menyebut, tradisi Saparan berawal dari peristiwa masa lalu. Ketika Gunung Gamping masih ditambang.
Sebagian digunakan untuk membangun keraton, sementara batuan yang kecil digunakan oleh masyarakat. Kala itu setiap hari Jumat selalu ada kejadian bencana.
"Tokoh yang jadi legenda adalah Ki Wirosuto dan istrinya yang tewas dan tubuhnya tidak pernah ditemukan," katanya.
Oleh sebab itu, bekakak dilangsungkan sebagai upacara keselamatan. Dia tidak ingat pasti kapan bekakak pertama kali diselenggarakan.
Namun setelah Sultan HB I naik takhta. Lalu hingga saat ini terus dilestarikan. "Ada yang bilang kalau musyrik, padahal kami berdoanya kepada Allah SWT," katanya.
Upacara bekakak sendiri melalui prosesi yang panjang. Sehari sebelumnya telah ada malam midodareni, pentas macapat, hingga pagelaran wayang kulit.
Jelang kirab juga turut diselenggarakan pentas karawitan dan upacara.
Sementara itu, Ketua Saparan Bekakak 2025 Wahyu Saktiaji menjelaskan, pada tahun ini ada 27 rombongan. Mulai dari ogoh-ogoh maupun kesenian. Total peserta sekitar 2.000 orang.
"Ke depan kami akan coba kembangkan dengan tema karnaval adat masing-masing padukuhan. Jadi, tidak mesti ogoh-ogoh," terangnya.
Dia yakin upacara ini akan menunjang ekosistem Gunung Gamping yang saat ini sudah berstatus warisan geologi.
Harapan masyarakat semakin sadar untuk menjaga lingkungan sekitar. "Jadi bisa dijaga dengan melihat sejarahnya," katanya. (del/laz)
Editor : Herpri Kartun