SLEMAN - Puncak tradisi Bekakak di Kapanewon Gamping, Sleman adalah pemotongan sang boneka pengantin. Salah seorang yang memiliki keistimewaan untuk membuatnya adalah Sugiyantoro.
Suasana Padepokan Omah Soewoeng berbeda dibandingkan hari biasa. Penuh orang yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Diiringi gending-gending Jawa, terlihat ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan dan sesaji. Ada pula bapak-bapak yang tengah mencampur adonan. Sementara lainnya membentuk janur. Namun dari semua itu, sosok yang paling menarik perhatian adalah Tolo, panggilan akrab dari Sugiyantoro.
Baca Juga: Tradisi Saparan Bekakak: Budaya Unik Yogyakarta yang Sarat Makna
Di tempat yang berlokasi di Gamping Kidul, Ambarketawang, ini Tolo membuat boneka bekakak. Kerangka badan dan tangannya menggunakan bilah bambu. Sementara kepalanya berupa pepaya kecil.
Di bagian tengah badannya terlihat sebuah kantong plastik menggantung berisi gula merah cair. Nantinya ini jadi pelambang darah yang mengalir saat leher boneka disembelih.
"Sudah bikin dari 1991 sampai sekarang. Tidak ada yang beda," katanya di sela-sela pembuatan.
Tak heran tangan laki-laki berusia 69 tahun ini terlihat mahir membentuk adonan yang menutupi kerangka. Usai membentuk setiap bagian tubuh, dilanjutkan dengan proses penghalusan menggunakan air. Tangannya gesit seperti sedang melakukan pemijatan.
Baca Juga: Mengenal Yudi Pramardiyanto, Rutin Membuat Boneka Pengantin Bekakak Selama 15 Tahun untuk Jaga Tradisi
Untuk membuat empat boneka ini setidaknya diperlukan adonan 30 kilogram. Dengan perbandingan tepung beras tiga dan dua tepung ketan.
Usai boneka terbentuk, Tolo akan melapisinya dengan minyak. Dia sebut ini untuk meminimalkan penguapan. Dengan kata lain, mencegah boneka dari keretakan karena suhu udara yang panas.
"Tantangannya justru pada pembuatan adonan. Tidak boleh kematangan. Keras atau kurang mateng nanti lembek," katanya.
Usai dibentuk seperrti manusia, dua pasang boneka ini diberi hiasan layaknya pengantin. Mereka menggunakan busana dengan adat Jogja dan Solo.
Baca Juga: Mural One Piece di Bale catur Gamping Sleman Juga Dihapus, Berganti Tulisan: Kita Ada dan Berlipat Ganda
Untuk pengantin laki-laki satu mengenakan blangkon, sementara lainnya kanigiro. Untuk yang perempuan menggunakan konde dan satunya bergaya gulung tekuk.
Tidak hanya menggunakan pakaian, boneka bekakak juga turut dirias. Di sini Tolo mengaku cukup menggunakan cat air murahan saja.
Laki-laki asal Gamping ini mengaku, mempelajari pembuatan boneka secara otodidak. Selama prosesi pembuatannya juga tidak ada ritual khusus. Berbeda dengan zaman dulu ketika semua orang yang terlibat mesti puasa.
"Saya ini seniman kampung. Sehari-hari jadi terapis saraf. Ilmu buatnya enggak bisa diturunin, harus dirinya yang mau," katanya.
Baca Juga: Jaga Kepercayaan Konsumen, Pasar Rejowinangun Magelang Jawa Tengah Dukung Upaya Mentan Amran Jaga Kualitas Beras
Tolo menjelaskan, dia tidak hanya membuat boneka bekakak. Namun juga dua buah ogoh-ogoh yang menjadi perlambang genderuwo dalam prosesi bekakak ini.
"Kalau dulu yang bikin boneka bekakak kakak saya. Prosesi ini sesuai sabda Sultan HB I untuk bikin bekakak tiap bulan Sapar," terangnya. (laz)