Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rini Handayani, Pemilik Sarisa Merapi yang Hasilkan 22 Produk Olahan Salak Pondoh: Gunakan Konsep Zero Waste dengan Manfaatkan Daging, Biji, hingga K

Delima Purnamasari • Jumat, 1 Agustus 2025 | 01:55 WIB

Pemilik Sarisa Merapi Rini Handayani
Pemilik Sarisa Merapi Rini Handayani
Kabupaten Sleman terkenal dengan salak pondoh. Di tangan Rini Handayan buah berkulit kasar ini setidaknya bisa menjadi 22 olahan. Dalam sehari dia bisa mengolah 100-150 kilogram salak.

Delima Purnamasari, Sleman

Sejak tahun 2016 Rini membangun usaha Sarisa Merapi. Berlokasi di Purwobinangun, Kapanewon Pakem dia menjual berbagai produk olahan dari salak asli Sleman. Mulai dari tepung, pai, dodol, hingga bolen.

Produk unggulannya adalah manisan salak. Dengan kemasan cup plastik, salak diolah menjadi lebih kenyal. Disertai dengan air yang tidak terlalu manis, tetapi menyegarkan.

Rini bercerita bahwa salak yang bisa digunakan untuk manisan maksimal memiliki kematangan 70 persen. Tidak bisa lebih dari pada itu.

Namun, dia tidak bisa mematok kematangan tertentu dari salak yang dibeli petani. Untuk itu buah yang tidak masuk kualifikasi tersebut diolah jadi produk lainnya.

"Sementara untuk bijinya kami olah jadi kopi biji salak," katanya.

Prosesnya diawali dari biji yang dicuci bersih. Lalu dijemur hingga kering. Ditandai dari biji yang pecah. Selanjutnya disangrai menggunakan pasir khusus.

Lalu digiling dan dicampur dengan kopi robusta yang diproduksi di sekitar Kapanewon Pakem.

"Kalau tidak dicampur dengan kopi, tidak bisa disebut sebagai kopi," tambahnya.

Kopi biji salak ini dia buat minuman kekinian. Mulai dari kopi gula aren, moccacino, macchiato, hingga espresso. Para pelanggan juga dipersilakan membeli bubuk kopinya saja.

Perempuan berusia 51 ini menilai, kopi biji salak ini memiliki rasa yang mirip dengan kopi biasa. Hanya saja lebih lembut. Namun, pahitnya tetap terasa.

"Kami berusaha hasilkan yang tidak mungkin jadi mungkin dibantu penelitian dari UGM. Produk ini bisa menurunkan kadar asam lambung," terangnya.

Sementara untuk kulit salak, saat ini tengah dilakukan penelitian bersama UGM untuk dibuat teh. Sarisa Merapi berencana mengombinasikannya dengan sereh dan secang.

Ini sebagai solusi karena kulit salak yang tidak memiliki rasa maupun warna ketika diseduh. Nantinya produk direncanakan memiliki wangi yang khas. Warnanya sedikit kemerahan.

"Ketika penelitian sudah selesai kami baru berani menjual secara luas," tambahnya.

Saat ini produk Sarisa Merapi ini sudah dipasarkan di berbagai daerah. Mulai dari Jayapura, Aceh, Gorontalo, hingga Bali. Rini berharap usahanya ini bisa semakin dikenal. Dia yakin nantinya pendapatan bisa mengikuti.

"Kami selalu berjuang untuk bisa dikenal. Dengan media sosial, dibantu dinas, hingga membagikan tester," tandasnya. (del)

Editor : Bahana.
#Sleman #Zero Waste #salak pondoh