SLEMAN - Salah satu pelaku UMKM olahan salak andalan Kabupaten Sleman mengeluhkan adanya penurunan omzet penjualan. Hal tersebut disampaikan oleh pemilik Sarisa Merapi Rini Handayani dalam kunjungan Komisi B DPRD Sleman di Sarisa Merapi Selasa (29/7).
"Kami membuka wisata edukasi yang menyasar pemerintahan dan sekolah," katanya saat ditemui Selasa (29/7).
Namun, efisiensi dan adanya larangan study tour memberikan dampak besar pada omzet yang didapat. Bahkan bisa mengurangi hingga 50 persen. "Pasar study tour kami memang Jakarta dan Jawa Barat. Ini berkurang drastis," keluhnya.
Di sisi lain, bantuan yang diberikan pemerintah dia nilai tidak banyak seperti sebelum pandemi. Harapannya pemerintah bisa membantu membuka keran ekonomi agar pulih seperti semula.
Baca Juga: Info Pemadaman Listrik Yogyakarta Rabu 30 Juli 2025, Berikut Sejumlah Lokasi dan Waktunya
"Kami harus berjuang keras untuk promosi dan sebagainya. Harus semaksimal mungkin. Biar bisa bertahan," katanya.
Sarisa Merapi sendiri memiliki 22 produk olahan salak. Unggulannya adalah manisan salak. Selain itu, ada kopi biji salak. Untuk saat ini juga tengah dikembangkan teh dari kulit salak.
"Ekspor belum karena peluangnya masih sulit kalau olahan. Tapi kalau nasional sudah ke Jayapura, Aceh, Gorontalo, Bali," bebernya.
Sementara itu, Ketua Komisi B Muh Zuhdan menjelaskan, salah satu solusi yang ditawarkan terkait penjualan yang menurun adalah dengan membuat paket-paket. Produk yang dijual digabungkan dengan tiket dari berbagai kegiatan yang digelar di Bumi Sembada.
Sementara terkait imbas larangan study tour diarahkan untuk menggeser pangsa pasar. Salah satunya sebagai lokasi edukasi bagi kelompok wanita tani dari berbagai daerah.
"Keluhan ekonomi ini memang jadi keluhan secara nasional," ungkapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita