SLEMAN - Menteri Sosial Saifullah Yusuf melakukan tinjauan di Sekolah Rakyat Purwomartani, Kalasan, Sleman Rabu (16/7). Laki-laki yang akrab disapa Gus Ipul ini berkeliling memastikan semua fasilitas yang menempati Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Jogjakarta ini memadai.
Gus Ipul juga turut menengok para siswa setingkat SMA ini belajar. Dia juga mengajak mereka berdialog. Menanyakan cita-cita mereka, keluhan yang mungkin dialami, hingga menjawab pertanyaan yang diajukan.
Dalam kesempatan tersebut dia juga menyampaikan bahwa kemampuan setiap siswa akan dikenali menggunakan teknologi artificial intelligence (AI). Metode yang digunakan adalah pemetaan melalui tes DNA yang dikembangkan oleh Ary Ginanjar.
"Ini teknik yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia," katanya.
Gus Ipul menerangkan, yang digunakan adalah AI terlatih. Bukan AI sembarang yang beredar di masyarakat. Teknologi ini sebelumnya juga telah digunakan untuk kepala sekolah.
"Hasilnya cocok sekali dengan kepribadian, minat, dan bakat. Jadi guru sudah dibekali dengan informasi bakat setiap siswa," tambahnya.
Penyelenggaraan sekolah rakyat ini disebut juga menggunakan teknologi mutakhir. Termasuk learning management system (LMS). Di dalamnya ada modul ajar yang diperoleh dari Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Al-Hikmah.
"LMS ini digunakan untuk sekolah unggulan sehingga sangat membantu. Kalau membuat sendiri tentu perlu waktu," katanya.
Di sisi lain, tata kelola digital juga dibantu dengan adanya kartu untuk setiap siswa. Kartu tersebut nanti dipindai saat siswa akan melakukan kegiatan. Mulai dari makan, ibadah, hingga masuk kelas. Jadi, proses pemantauan lebih mudah dilakukan.
"Tata kelola keuangannya juga saling terhubung. Itu sangat membantu kepala sekolah," katanya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas 20 Kabupaten Sleman Reti Sudarsih menyebut, dalam tes kemampuan menggunakan AI ini para siswa akan diberikan berbagai pertanyaan. Dia menyebut bisa diselesaikan dalam 15 menit.
"Nanti ditemukan kemampuan yang dominan. Kalau saya itu kolaborasi dan empatinya yang tinggi," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita