SLEMAN - Proses penerimaan siswa baru telah usai. Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Mustadi mengakui untuk SD negeri memang menjadi sorotan tersendiri. Dari 374 SD negeri, ada 62 sekolah yang dapat murid di bawah 10 orang.
Sementara untuk jenjang SMP negeri, dia nilai cenderung aman. Hanya ada SMPN 3 Prambanan dan SMPN 4 Prambanan yang kekurangan siswa. Masing-masing lima anak.
"Ini memang jadi tantangan kami. Sementara SD swasta, seperti Muhamadiyah itu justru mengajukan permohonan tambahan rombel," katanya Selasa (15/7/2025).
Dia tidak menampik kualitas jadi salah satu faktor penyebab. Utamanya karena persoalan kurangnya guru. Selain itu, sekolah negeri tidak diperkenankan untuk memungut biaya tambahan. "Jadi kegiatan di sekolah negeri reguler saja. Output-nya kurang maksimal," katanya.
Mustadi mengaku akan memetakan persoalan ini. Kalau pun diperlukan bisa jadi kebijakan regrouping bisa dipraktikkan.
Kepala Seksi Kelembagaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Sartini menjelaskan, ada 138 SD swasta di Kabupaten Sleman. Setidaknya 12 di antaranya hanya mendapat siswa di bawah lima orang. "Siswa yang diterima SD negeri 8.336 orang. Untuk swasta 4.914," tambahnya.
Terpisah, Kemenag Sleman mencatat rombongan belajar (rombel) untuk semua jenjang madrasah negeri terpenuhi. Pengawas Madrasah Kemenag Sleman Nur Wahyudin Azis menyebut, di beberapa sekolah khususnya Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) bahkan pendaftarnya meluber.
Sehingga ketika calon siswa tidak memenuhi kualifikasi usia dan kemampuan, pasti ditolak. "Pendaftarnya bisa lima kali lipat dibanding kuota siswanya," terangnya saat ditemui di Kantor Kemenag Sleman, Selasa (15/7).
Sementara untuk Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) bisa tiga kali lipat. Lalu untuk Madrasah Aliyah Negeri (MAN) memang beberapa ada yang pas dan ada yang lebih.
"Saat ini juga ada pengetatan oleh Kanwil Kemenag DIY untuk tidak menambah rombel. Jadi jumlah siswa yang lulus dengan yang masuk sama," jelasnya.
Dia menyebut Kabupaten Sleman sendiri memiliki total 44 MI, dua di antaranya negeri. Lalu 42 MTs dan 10 di antaranya negeri. Serta 32 MA dengan lima di antaranya negeri.
Sementara soal keterpenuhan rombel madrasah swasta, Aziz menyebut belum bisa memastikan. Hal ini lantaran dalam minggu ini masih dalam proses input data. Namun dia mengakui ada beberapa yang mengalami kekurangan siswa. Lantaran fasilitas yang belum memadai hingga memang belum dikenal masyarakat.
"Input data belum finis karena madrasah itu ada yang di bawah pondok pesantren dan siswanya dari seluruh Indonesia. Masih dinamis," katanya.
Aziz juga menyebut ada kenaikan signifikan dari siswa yang diterima madrasah maupun sekolah berbasis agama apa pun. Menurutnya, kondisi ini terjadi karena orang tua menilai bekal agama bagi anaknya adalah hal penting. Khususnya dalam mengarungi dunia yang serba cepat dengan adanya teknologi informasi.
"Ada 15 madrasah negeri dan swasta yang saya sendiri dampingi. Secara kuantitas perolehan siswanya naik signifikan," katanya. (del/laz)