Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Paguyuban Ngesti Laras, Tempat Para Lansia Melestarikan Budaya Karawitan, Sindennya Rata-Rata Umur di Atas 70 Tahun, Konsisten Manggung di Kantor Kalu

Delima Purnamasari • Jumat, 11 Juli 2025 | 03:30 WIB
NGURI-URI KABUDAYAN: Paguyuban Karawitan Ngesti Laras saat tampil di Kalurahan Condongcatur, Depok, Sleman.
NGURI-URI KABUDAYAN: Paguyuban Karawitan Ngesti Laras saat tampil di Kalurahan Condongcatur, Depok, Sleman.

RADAR JOGJA - Usia tampaknya bukan halangan bagi anggota Paguyuban Karawitan Ngesti Laras. Para anggota yang mayoritas berumur di atas 60 tahun ini tak lelah untuk terus melantunkan gending-gending Jawa.

Ketua Paguyuban Karawitan Ngesti Laras Teguh Subroto bercerita, komunitas ini sudah ada sejak 1977. Dia sendiri menjadi ketua terhitung tahun 2013 hingga kini.


"Sinden-sindennya itu sudah 70 tahun ke atas," terangnya, sembari menunjukkan para penampil di Pendopo Kalurahan Kamis 10 Juli 2025.


Anggota paguyuban saat ini tinggal 25 orang saja. Lantaran terkendala jarak, kerap kali yang hadir dalam latihan rutin hanya sekitar 20 orang.


Laki-laki berusia 65 tahun ini bercerita awalnya paguyuban adalah masyarakat umum. Namun berkembangnya waktu diminta untuk berlatih di Kantor Kalurahan Condongcatur lantaran terdapat seperangkat gamelan lengkap.


Teguh bercerita salah satu perbedaan utama dibandingkan dengan paguyuban karawitan lain adalah gending yang dinyanyikan. Paguyubannya cenderung konsisten memainkan gending klasik, seperti Gambir Sawit, Ibu Pertiwi, dan Sidomukti.


"Kalau yang lain ada kreasi baru. Apalagi kalau yang di ISI dan SMKI itu," katanya.


Keputusan itu diambil bukan hanya sebatas karena suka. Namun, mereka juga terhambat usia sehingga kesulitan untuk mengikuti gaya terbaru.


Di sisi lain, paguyuban sudah berusaha untuk menarik minat anak muda untuk belajar memainkan gamelan. Namun, tidak banyak yang tertarik.


"Memang susah. Apalagi kalau tidak ada keturunan keluarga pelestari budaya," keluhnya.


Teguh bercerita saat ini tak banyak yang mengundang paguyubannnya untuk tampil. Satu-satunya tempat mereka konsisten bermain adalah di Kantor Kalurahan Condongcatur. Mereka biasa tampil setiap Kamis Pon. Selain itu, pada hari besar mapun hari jadi kalurahan.


Disinggung soal penghasilan, dia tidak menampik jumlah yang diterima tidak besar. Meski begitu, mereka tetap bersemangat lantaran senang dengan gamelan dan gending-gendingnya.


Hobi ini bisa sekaligus menghibur masyarakat yang datang untuk mencari layanan dari kalurahan. "Ada rasa senang untuk melestarikan budaya. Jadi bisa berkomitmen. Untuk latihan kami lakukan setiap malam Sabtu," tandasnya. (del/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Condongcatur Sleman #gending Jawa #sinden #Karawitan Jawa