SLEMAN - Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman tengah menyiapkan langkah rehabilitasi jaringan irigasi tersier. Upaya ini demi menjaga produktivitas pertanian di wilayah tersebut.
Plt Kepala DP3 Kabupaten Sleman Rofiq Andriyanto mengatakan, jaringan irigasi tersier di Sleman total sepanjang 770 kilometer. Namun, jaringan yang baru memiliki bangunan sempurna sekitar
60 persen. Apalagi, air menjadi salah satu sumber daya krusial dalam dunia pertanian.
"Jadi itu jaringan irigasi kecil-kecil. Percuma semisal punya alat modern, tapi enggak ada airnya," katanya, Jumat (6/6/2025).
Menurutnya, belum meratanya bangunan saluran irigasi itu karena keterbatasan anggaran.
Beberapa wilayah yang sebelumnya telah mendapatkan bantuan, meskipun belum seluruh jaringan terbangun, belum bisa langsung dibantu lagi.
Baca Juga: Usai Pertahankan Pieter Huistra PSS Sleman Kini Berburu Pelatih Lokal, Ada Seto hingga Kahudi
"Jadi misal irigasi 1.000 meter hanya 400 meter yang dibantu. Saat ini kami tengah menyusun proposal untuk memohon anggaran," ujarnya.
Meski begitu, Rofiq menyebut hasil pertanian di Bumi Sembada telah mengalami surplus. Pada Januari hingga Mei luas panennya mencapai 12.600 hektare atau setara 56.000 ton beras.
"Jumlah itu cukup untuk warga Sleman. Setiap tahun memang ada surplus beras untuk cadangan nasional 55.000 sampai 60.000 ton," bebernya.
Rofiq menilai, pencapaian tersebut berkat banyaknya dukungan mesin modern, bantuan benih, hingga pupuk yang diberikan pada petani demi percepatan produksi.
"Jadi Sleman ikut berpartisipasi demi mewujudkan program ketahanan pangan tahun ini," sambungnya.
Sementara itu, salah satu petani di Sleman Suranto menuturkan, tantangan lain masih mengantui terutama soal kualitas tanah. Kondisi ini bisa menyebabkan penurunan produksi.
"Dulu untuk satu hektare lahan bisa menghasilkan padi hingga 25 ton. Namun, kini maksimal hanya 18 ton," tambahnya. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita