SLEMAN - Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman mencatat ada 179 hektare lahan yang terserang hama tikus. Angka tersebut terhitung sejak Januari sampai April 2025 lalu.
Plt Kepala DP3 Sleman Rofiq Andriyanto menjelaskan, angka tersebut memang cukup tinggi. Hal ini lantaran pada musim tanam bulan tersebut penanaman padi melimpah.
"Ketersediaan makan yang melimpah sangat berpengaruh terhadap peningkatan populasi tikus," katanya saat dikonfirmasi Minggu (1/6).
Serangan tikus ini dia sebut hampir ada di semua wilayah Sleman. Namun, mayoritas memang berada di wilayah barat.
Dia menyebut, dinasnya bersama dengan kelompok tani sudah melaksanakan gerakan pengendalian seluas 4.236 hektare. Hal ini dilakukan dengan gropyokan, pengumpanan, pengemposan, dan pemanfaatan musuh alami.
"Terbaru dengan melibatkan komunitas sniper seperti yang dilaksanakan di Sendangmulyo, Minggir April kemarin," tambahnya.
Dia menyebut, apabila umur tanaman masih muda bisa digunakan racun tikus dengan umpan untuk melakukan pembasmian. Baik itu menggunakan petrokum atau biyoso.
Namun apabila umur padi sudah generatif, maka pengumpanan sudah tidak bisa dilakukan. Hal ini karena tikus akan tetap tertarik dengan tanaman padi.
"Jaga kebersihan lahan dari gulma dan saluran air yang dapat digunakan untuk bersembunyi tikus. Bisa juga dengan memasang perangkap bubu," pesannya.
Sementara itu, Ketua Gapoktan Margodadi Beni Sujendro menyebut, cara yang digunakan untuk mencegah hama tikus adalah dengan penanaman padi serentak. Kondisi ini membuat tikus kesulitan mendapatkan makanan secara terus-menerus sehingga populasinya bisa berkurang.
"Untuk di Margodadi alhamdulillah aman dari serangan tikus," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita