SLEMAN - Sebanyak 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diresmikan di Tebing Breksi, Selasa (20/4). Terdiri dari 12 SPPG yang berlokasi di Kabupaten Sleman, satu di Kabupaten Gunungkidul, dan satu di Kabupaten Kulon Progo.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjelaskan, setiap SPPG akan menerima anggaran sebesar Rp 900 juta tiap bulan. Sebanyak 85 persen akan digunakan untuk membeli bahan baku.
"Mayoritas adalah produk pertanian jadi akan mendorong produktivitas pangan masing-masing wilayah," katanya.
Setiap satu SPPG akan memproduksi 3.000-4.000 porsi sehari. Untuk itu diperlukan setidaknya 200 kilogram beras, 3.000 butir telur, 350 kilogram ayam, 300 kilogram sayur, 350 kilogram buah, bahkan susu 450 liter. Dadan menyebut satu SPPG minimal akan membutuhkan 15 suplier.
"Untuk setiap porsi kami berikan insentif sebesar Rp 2.000. Investasi membangun SPPG dua sampai tiga miliar pengembaliannya cukup 1,5 tahun," kata Dadan.
Baca Juga: Suami Najwa Shihab Sekaligus Komisais Utama Narasi Meninggal Dunia
Hingga saat ini telah ada 1351 SPPG yang beroperasi dengan 3,96 juta penerima manfaat. Sementara untuk DIY, dibutuhkan 367 SPPG, tetapi baru 37 yang beroperasi.
Dia menyebut program makan bergizi gratis merupakan investasi terbesar bagi sumber daya manusia. Hal ini lantaran mayoritas penambahan penduduk berasal dari keluarga miskin dan rentan miskin. Umumnya mereka hanya makan karbohidrat saja.
"Mereka yang 20 tahun ke depan akan jadi tenaga kerja produktif. Kalau tidak diintervensi gizi seimbang maka kualitasnya rendah," tambah Dadan.
Sementara itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto memberikan apresiasi atas 14 SPPG yang diinisiasi oleh badan usaha milik desa (BUMDes) ini. Dia yakin SPPG ini akan memberi efek ekonomi yang besar.
"BUMDes jadi ujung tombak dalam pemicu ekonomi. Bahan baku untuk SPPG dari desa sendiri, jangan sampai dari luar daerah," katanya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita