SLEMAN - Pembangunan Taman Budaya Sleman belum bisa dilaksanakan. Hal ini lantaran adanya pemotongan anggaran.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman Edy Winarya menjelaskan, pembangunan taman budaya merupakan program strategis. Lantaran setiap kabupaten atau kota di DIY setidaknya diharapkan memiliki satu taman budaya. Pembangunannya sendiri murni berasal dari dana keistimewaan.
Edy menyebut, pengadaan tanah seluas 2,5 hektare baru dilakukan pada 2020-2021. Berlokasi di Kalurahan Pandowoharjo, Sleman. Target pembangunan direncanakan selesai pada 2025-2026. “Tapi karena terkendala anggaran, sampai saat ini belum bisa pembangunan fisik," katanya saat ditemui di kantornya Rabu (7/5).
Meski demikian, dia menyebut detail engineering design (DED) sudah ada. Kebutuhan administrasi pembangunan lain seluruhnya juga sudah lengkap. "Pada 2024 sempat kami anggarkan Rp10 miliar tapi enggak bisa ternyata," tambahnya.
Dia memastikan, pembangunan belum bisa dimulai tahun ini. Namun, pada 2026 direncanakan untuk membangun pagar dahulu sebagai pengamanan. Anggarannya sekitar Rp 5 miliar. "Dari sisi pembangunan memang sangat tergantung dari provinsi," katanya.
Nantinya dana keistimewaan akan mengakomodasi seluruh pembangunan. Namun untuk isiannya, akan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Sleman. Misalnya, lampu artistik, kursi, hingga gamelan.
Edy menambahkan, taman budaya ini direncanakan akan menjadi laboratorium seni. Di dalamnya terdapat amfiteater, studio, tempat pementasan, ruang pamer, laboratorium teater, hingga joglo. "Saat ini masih tanah kosong. Nanti dinas PU yang akan bertugas membangun fisiknya," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Cipta Karya DPUPKP Sleman Zaini Anwar menyebut, anggaran dana keistimewaan untuk pembangunan taman budaya dihapus. Sehingga untuk saat ini, belum ada progres.
"Tetapi sepertinya dinas kebudayaan sleman dan paniradya keistimewaan akan mengusulkan kembali di redesain tahap satu," ungkapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita